Oleh: Mualif Masykur, Khadimul Ma'had PP Abuya Joglo Cianjur
Dalam tradisi pesantren, relasi antara santri dan guru melampaui batas hubungan transaksional antara pekerja dan atasan. Ini adalah ikatan ruhani yang mendalam, di mana seorang murid melabuhkan penghormatan tidak hanya kepada sosok sang guru, tetapi juga kepada cahaya ilmu yang diyakini mengalir melalui perantaraannya.
Dengan kesadaran tersebut, ketika santri secara sukarela berkhidmah membantu pekerjaan guru, seperti menyapu halaman, menyiapkan air wudu, menjemput tamu, atau sekadar membersihkan sandal aktivitas tersebut bukan sekadar "pekerjaan fisik," melainkan manifestasi batiniah dari adab serta kecintaan mendalam terhadap ilmu yang diterima.
Jika seorang karyawan menunjukkan kesediaan untuk membantu atasan karena imbalan gaji bulanan, maka dorongan santri untuk menolong gurunya tidak didasarkan pada uang.
Sebaliknya, hal itu muncul karena setiap hari mereka menerima sesuatu yang dinilai jauh lebih berharga: ilmu. Ilmu inilah yang diyakini menjadi sebab kemuliaan umat manusia, alasan diutusnya para nabi, dan jalan bagi seseorang untuk mengenal Tuhannya.
Sejalan dengan pemahaman ini, Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Ihya’ ‘Ulumuddin (Jilid I, hal. 53, Dar al-Ma‘rifah), menegaskan, "Ilmu adalah ibadah paling utama, dan guru adalah perantara yang menunjukkan jalan kepada Allah.
Maka memuliakan guru adalah bagian dari memuliakan ilmu dan memuliakan Allah." Penegasan ini memperjelas bahwa penghormatan terhadap guru bukanlah sekadar norma budaya, melainkan merupakan inti dari spiritualitas Islam.
Seorang santri meyakini bahwa guru adalah pintu gerbang menuju ilmu, dan siapa pun yang menutup pintu adab, maka pintu ilmu pun akan tertutup baginya.
Oleh karena itu, tindakan khidmah santri kepada gurunya adalah praktik langsung dari ajaran adab yang termaktub dalam kitab-kitab klasik pesantren.
Adab ini adalah kunci terbukanya keberkahan ilmu, sebuah anugerah yang tidak dapat dibeli dengan materi, tetapi hanya bisa diraih melalui kerendahan hati dan pengabdian tulus.
Sejarah peradaban Islam kaya akan kisah pengabdian murid kepada guru. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah Imam Syafi‘i bersama gurunya, Imam Malik.
Dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Ibn Asakir (Jilid 51, hal. 398) dikisahkan bahwa Imam Syafi‘i senantiasa menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada Imam Malik, tidak pernah membuka kitab di hadapannya tanpa izin, dan rutin membantu urusan-urusan kecil gurunya.
Melihat adab ini, Imam Malik pernah berucap, "Aku melihat dalam dirimu cahaya, wahai Muhammad bin Idris (Syafi‘i). Allah akan menjadikanmu orang yang besar."
Di lingkungan pesantren Nusantara, tradisi luhur ini terus dipertahankan. Santri-santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari, misalnya, dikenal sangat tawaduk dalam berkhidmah.