Oleh: Agung Wibawanto
Joao Angelo De Sousa Mota diketahui resmi mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) setelah enam bulan memimpin sejak 10 Februari 2025. Video pengunduran dirinya disertai permintaan maaf hingga hormat menunduk sempat viral di media sosial. Ada apa?
Joao Mota mengungkap salah satu sumber kekecewaannya adalah ketiadaan anggaran dari pihak holding atau pemegang saham, yakni Danantara. Padahal, dana tersebut sangat krusial untuk merealisasikan rencana kerja yang telah disusun dengan matang.
Ia menilai, meskipun Presiden menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong terwujudnya kedaulatan pangan, dukungan penuh dari para pemangku kepentingan justru belum terlihat. “Keseriusan Presiden tidak sepenuhnya diimbangi oleh stakeholder atau para pembantunya,” ujarnya. Hingga kini diakui dana dari Danantara masih nol.
Selain soal anggaran yang tak kunjung cair, Joao juga mengaku dibuat lelah oleh rumitnya birokrasi di tubuh Danantara. ia mencontohkan, perusahaannya sudah tiga kali menyerahkan studi kelayakan (feasibility study) untuk sebuah proyek pangan strategis. Namun, semua dokumen itu tak kunjung mendapat lampu hijau.
Kondisi ini, menurutnya, membuat proses persiapan program menjadi berlarut-larut dan menghambat langkah eksekusi di lapangan. Joao menilai, birokrasi yang panjang dan berbelit di lingkungan Danantara bertolak belakang dengan gaya kerjanya yang terbiasa serba cepat.
Sebelum memimpin BUMN, ia lama berkiprah di sektor swasta yang menuntut efisiensi dan ketangkasan dalam mengambil keputusan. Baginya, perbedaan kultur kerja ini menjadi salah satu faktor yang membuat program ketahanan pangan sulit bergerak sesuai target.
"Budaya ini ternyata sangat berbeda dari yang selama ini kami jalankan, sehingga saya melihat semangat dan keseriusan Pak Prabowo yang luar biasa justru tidak diimbangi oleh para pembantunya,” ujarnya. Ia menambahkan, rekan-rekannya di Danantara pun masih terjebak dalam proses administrasi yang rumit dan memakan waktu.
Menurutnya, prosedur yang berlaku bukan hanya panjang, tetapi juga kerap tumpang tindih antar-bagian, sehingga menyulitkan penyelesaian pekerjaan. Akibatnya, berbagai urusan terus berputar di lingkaran birokrasi tanpa pernah benar-benar tuntas, "Termasuk teman-teman di Danantara masih terbelenggu dengan administrasi yang panjang, tumpang tindih, dan tidak pernah selesai," pungkasnya.
Sementara dari pihak Danantara, CEO Danantara, Rosan Roeslani hanya menjawab terkait teknis pengunduran diri Joao Mota. Sedangkan masalah di tubuh Danantara yang dikritik Joao Mota hingga ia memutuskan mundur, sama sekali tidak ditanggapi.
"Danantara Indonesia menghormati keputusan pribadi Bapak Joao Angelo De Sousa Mota untuk mundur dari posisi Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara,” ujar CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dalam keterangan tertulis dikutip dari media, Senin (11/8/2025).
Sedangkan Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigas Khusus (Bappisus), Aris Marsudiyanto, justru memaklumi sikap Joao Mota yang mundur, "Nah, kadang-kadang ada pejabat baru ya, biasa lah dulu juga banyak menteri masih baru, wah ini begini-begitu ya, ini wajar, lah,” kata Aris di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (12/8/2025).
Kasus ini sesungguhnya menjadi cermin bagi Danantara terkait cara pengelolaannya. Big Holding bisnis ini semula digadang sebagai sebuah proyek prestisius yang diharapkan mampu membawa ekonomi Indonesia jauh lebih baik. Namun begitu, niat saja tidak cukup. Lihat bagaimana lingkungan/budaya, SDM hingga sistem pengelolaannya.
Publik semakin tidak.yakin bahwa Danantara akan menjadi jawaban dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia, jika faktor yang disampaikan tadi tidak segera dibenahi. Kekhawatiran sebagian pengamat yang mengatakan bahwa Danantara hanyalah mainan baru ataupun area baru bagi pelaku korupsi, sangat mungkin terjadi. Terlebih budaya KKN sangat kental terlihat di sana.