Dunia tampil manis di permukaan: harta, kuasa, ketenaran. Tapi ia menyimpan racun yang membutakan jiwa.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."
(QS. Al-Hadid: 20)
Betapa banyak yang hidupnya tampak penuh prestasi, tapi jiwanya kosong. Betapa banyak yang sukses secara duniawi, tapi kehilangan makna.
Nabi SAW bersabda:
“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.”
(HR. Baihaqi)
Dunia adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia adalah alat, bukan makna. Siapa menjadikannya akhir dari hidup, maka kehampaanlah yang akan memburunya.
Umar bin Khattab RA pernah berkata:
"Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, maka manusia pun akan mencintaimu."
Keserakahan, hawa nafsu, dan cinta berlebihan pada dunia adalah perangkap syaitan. Manusia yang tak mampu bersyukur akan selalu merasa kekurangan. Yang tak mampu menahan diri akan terus merasa haus... hingga ajal menjemputnya dalam keadaan tertipu.
Penutup: Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Di balik hiruk pikuk dunia, ada bisikan sunyi dari jiwa yang letih:
"Apakah semua ini benar-benar membawaku pada kebahagiaan, atau justru membuatku kehilangan arah?"
Dunia bukan musuh, tapi bisa menjadi jebakan. Semakin kita mengejarnya tanpa iman, ia akan menawan kita. Semakin kita mencintainya membabi buta, semakin jauh kita dari tujuan penciptaan.
Ulama salaf berkata: