Apakah kita akan membiarkan Bojongmenje menjadi “prasasti kematian” kebudayaan Sunda? Atau kita memilih untuk merestorasi, mengedukasi, dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan kontemporer? Pilihannya bukan di tangan candi, tapi di tangan kita.
Sebab sebagaimana diungkapkan arkeolog Peter R. Schmidt: “Heritage is not just what is preserved, but what is remembered and practiced.”
Jika Bojongmenje dilupakan, maka itu bukan salah batu. Itu adalah kegagalan kolektif manusia yang kehilangan memori dan martabatnya sendiri.