Dalam perspektif eksistensialis, guru Islam di Jawa Barat dapat dilihat sebagai individu yang menjalani panggilan suci dalam sistem yang tidak memuliakan mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Albert Camus, "Pekerjaan yang tak dimaknai adalah kerja yang absurd." Guru-guru Islam menghadapi absurditas ini setiap hari, di mana mereka harus menjalani panggilan suci dalam sistem yang tidak menghargai kontribusi mereka.
Ontologi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam memiliki ontologi yang kuat dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual masyarakat. Namun, dalam sistem yang semakin sekuler dan pragmatis, pendidikan Islam sering kali hanya dijadikan pelengkap kurikulum atau sekadar identitas simbolik. Guru-guru agama dipandang "kurang strategis" dan tidak "marketable", sehingga kurang dihargai.
Peran NU dalam Mendukung Guru Islam
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung guru-guru Islam.
NU telah lama menjadi garda terdepan dalam mengembangkan pendidikan Islam yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Dengan jaringan yang luas dan pengalaman yang kaya, NU dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam.
Epistemologi Guru Islam_
Guru Islam memiliki epistemologi yang unik dalam memahami dan mengajar ilmu pengetahuan Islam. Mereka tidak hanya mengajar tentang pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual murid-murid mereka.
Dalam kerangka Martin Buber, pendidikan adalah relasi I and Thou—antara guru dan murid, dalam kehadiran yang utuh, bukan sekadar instrumen akademik.
Tanggung Jawab Pemerintah dan Peran NU
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa guru-guru Islam mendapatkan pengakuan sosial, pelatihan berkelanjutan, dan perlindungan hukum.
NU dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam melalui pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru-guru agama.