Karena sesungguhnya, kebenaran yang indah adalah kebenaran yang membawa tenang, bukan kegaduhan ataupun ketegangan.
Menyikapi Perbedaan dengan Bijak: Menjaga Persaudaraan Umat di Tengah Riuhnya Perbedaan
Dalam suasana kehidupan berbangsa dan beragama yang semakin dinamis, kita tidak bisa menutup mata bahwa perbedaan pandangan, baik dalam agama, pilihan politik, maupun cara hidup, semakin mencolok di tengah masyarakat. Media sosial, grup WhatsApp keluarga, bahkan obrolan warung kopi tak jarang menjadi arena debat panas yang kadang berujung saling menjatuhkan.
Sayangnya, perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru berubah menjadi jurang pemisah yang menimbulkan rasa curiga, saling menyalahkan, hingga permusuhan.
Umat Islam pun kadang terjebak dalam konflik internal yang sebenarnya bisa disikapi dengan lebih arif.
Perbedaan Itu Bukan Masalah, Cara Menyikapinya yang Jadi Soal
Perbedaan adalah bagian dari sunatullah. Tidak semua orang harus sepemikiran. Bahkan para sahabat Nabi sendiri pernah berbeda pendapat, tetapi mereka tetap bersatu karena memahami bahwa tujuan mereka sama: mencari kebenaran dan ridha Allah.
Masalahnya sekarang, kita hidup di zaman di mana ego lebih sering dijunjung ketimbang adab. Orang lebih suka membela pendapatnya tanpa memberi ruang bagi orang lain untuk didengar. Apalagi saat menyangkut soal pilihan politik, kita sering melihat saudara sendiri bisa saling serang, hanya karena berbeda warna atau pasangan calon.
Padahal, bisa jadi setelah pemilu, para elit politiknya kembali akrab, sementara kita di bawah masih saling sindir.
Saatnya Umat Islam Tampil sebagai Penyejuk
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang membawa keteduhan, bukan keributan. Allah SWT berfirman:
"Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)
Di zaman sekarang, ayat ini sangat relevan, terutama dalam bersosial media. Komentar negatif, hoaks, bahkan fitnah tersebar dengan cepat tanpa dipikir panjang. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, daripada kita ikut memperkeruh suasana, lebih baik kita hadir sebagai penyejuk—mengajak dialog, saling menghargai, dan mencari titik temu, bukan memperlebar jurang perbedaan.
Jangan Korbankan Ukhuwah karena Fanatisme Politik atau Mazhab
Salah satu keprihatinan kita saat ini adalah rusaknya hubungan silaturahim akibat beda pilihan politik atau perbedaan aliran dalam Islam. Ada yang memutus hubungan dengan saudara hanya karena berbeda pilihan saat pilkada atau pemilu. Ada pula yang merasa lebih suci karena merasa kelompoknya paling benar dan menyesatkan yang lain.