opini

Regenerasi Petani dan Masa Depan Sektor Pertanian

Jumat, 28 Maret 2025 | 15:09 WIB
Menteri PKP Maruarar Sirait mengeluarkan peringatan keras! Pengembang dilarang membangun perumahan di lahan sawah. Apa alasan di balik kebijakan ini? (Foto/Kementerian ATRBPN)

Mereka berharap dengan dikantongi nya, ijasah pendidikan yang lebih tinggi, kesempatan untuk jadi Aparat Sipil Negara atau karyawan swasta, akan lebih terbuka.

Jika anak-anak mereka mampu meraihnya, para orang tua yakin akan terjadi perbaikan nasib dan kehidupan ke arah yang lebih baik lagi. Mereka benar-benar pesimis, bila profesi petani padi bakal mampu meningkatkan harkat dan martabat kehidupannya.

Sadar akan hal demikian, sepatutnya Pemerintah dapat melahirkan terobosan cerdas dan bernas agar kaum muda perdesaan dan para orang tua yang kini berprofesi petani, memiliki keyakinan, bekerja menjadi petani tidak akan hidup miskin dan melarat. Pertanyaannya adalah terobosan cerdas dan bernas seperti apa yang sebaiknya dilahirkan oleh Pemerintah ?

Berdasar pengamatan menyeluruh, yang dimintakan kaum muda perdesaan dan para orang tua yang kini berprofesi sebagai petani, sebetulnya tidak macam-macam.

Mereka hanya ingin, bila bekerja menjadi petani, maka kehidupannya tidak akan melarat dan sengsara. Mereka tidak akan terjebak dalam penderitaan yang tak berujung. Itu sebabnya, mereka butuh jaminan Pemerintah, menjadi petani padi bakal hidup sejahtera dan bahagia.

Catatan kritisnya adalah jaminan seperti apa yang seharusnya disiapkan dan dilahirkan Pemerintah, sehingga mereka yang memilih petani padi sebagai profesinya akan layak hidup di Tanah Merdeka.

Secara gampangnya, ketika musim tanam tiba, para petani tidak akan lagi mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi dan saat musim panen datang, Pemerintah dapat menjamin harga gabah akan memberi keuntungan wajar bagi petani.

Teladan diatas, hanyalah secuil masalah yang butuh jawaban cerdas dan bernas dari Pemerintah. Belum lagi masalah lain yang tak kalah pelik, jika dan hanya jika, kita ingin menjadikan profesi petani padi mampu mengajak kaum muda untuk menekuninya.

Sebut saja perlunya benih/bibit padi yang berkualitas. Lalu, perbaikan sarana irigasi yang kini terabaikan. Peremajaan alsintan. Dan perlunya anggaran yang layak dan memadai.

Akhirnya, tolong dicatat, alih generasi petani padi, kini sudah saatnya memperoleh perhatian dan penangan serius dari segenap komponen bangsa. Petani adalah ikon utama negara agraris.

Betapa memilukan, bila di negeri ini sampai tidak ada petani. Keberadaan petani tetap perlu dipelihara dan dilindungi kehadirannya. Itu alasannya, regenerasi petani jangan disepelekan. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB