Respons masyarakat terhadap gaya politik kontroversial sensasional ini cenderung terpecah. Ada kelompok yang mendukung pendekatan sensasional sebagai tanda keberanian kandidat, tetapi ada pula yang merasa bahwa pendekatan ini hanya menciptakan kegaduhan tanpa substansi. Media juga sering mengekspos gaya ini, tetapi kritikus menilai bahwa media yang terus-menerus meliput kontroversi dapat memperparah polarisasi publik.
Gaya Politisasi Agama ini sering mendapatkan dukungan kuat dari kelompok agama tertentu, tetapi juga menimbulkan resistensi dari mereka yang tidak setuju dengan penggunaan agama dalam politik. Media cenderung berhati-hati dalam meliput isu yang berhubungan dengan agama untuk menghindari sentimen negatif, namun eksposur yang berlebihan dari media terhadap kandidat yang mempolitisasi agama dapat memperkuat persepsi bahwa agama adalah satu-satunya indikator kredibilitas politik.
Secara keseluruhan, baik gaya politik kontroversial maupun politisasi agama sama-sama membawa dampak negatif terhadap harmoni sosial dan stabilitas politik. Namun, politisasi agama cenderung lebih berbahaya dalam jangka panjang karena mampu menciptakan perpecahan berbasis identitas yang sulit disatukan kembali, sementara gaya kontroversial lebih banyak mempengaruhi diskursus politik dan persepsi publik terhadap kandidat. Kedua gaya ini menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi dan memilih pemimpin berdasarkan kualitas dan program yang ditawarkan, bukan sekadar narasi yang dibentuk melalui kontroversi atau agama.
Dalam ruang hening, catatan ini hanya sebatas refleksi dari hiruk pikuk panggung politik di ajang PILKADA Provinsi Jawa Barat dalam sudut kebeningan objektif. Keduanya terdapat plus dan minusnya. Pilihan terserah warga Jawa Barat. Akan tetapi, sejatinya para kandidat atau timnya bisa sangat memahami kondisi objektif keberagamaan, sosio kultural dan bahkan psikologis mayoritas masyarakat Jawa Barat, agar tidak terjebak kepada tampilan gaya kontroversial sensasional atau politisasi agama yang ekstrem.
Wadek I FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung#Pengamat Sosial dan Pengamal Moderasi Beragama#