Ketika Syekh al Sasi datang ke Hadramaut, keluarga Al Yafi mengusirnya dan melarangnya tinggal di daerah yang berada dalam kekuasaan klan al Yafi’.
Tidak hanya mengusir Syekh Al Sasi, klan Al Yafi’ juga mengusir Muhammad bin Aqil bin Yahya Ba’alwi yang dianggap sebagai “al jasus al akbar” (mata-mata terbesar) (Al Bakri, Tarikh Hadramaut, 2/64).
Melihat penolakan klan Al Yafi’ tentang hasil muktamar Singapura itu, klan Ba’alwi membuat framing negative terhadap klan Al Qu’aiti melalui surat kabar “Hadramaut” yang terbit di Surabaya.
Muhammad bin Aqil bin Yahya Ba’alwi juga mengirim tulisan ke Koran-koran Mesir yang berisi cacian kepada klan Al Qu’aiti. Klan Ba’alwi juga berusaha mengadu domba antara Klan Al Qu’aiti dan Klan Al Katsiri yang telah bersepakat untuk bersatu. Namun, usaha mereka gagal (Al Bakri, 2/66).