Agaknya, pemahaman rakyat awan kebanyak sekarang sudah dapat menerima realitas semacam itu sekedar bagian dari penyedap pesta demokrasi saja. Karena itu rakyat kebanyak sudah dapat menerima bantuan, pemberian atau semacam ungkapan simpati yang menarik itu dengan hati dan kepala yang dingin. Tidak emosional dan romantis, misalnya untuk memindahkan pilihan bagi calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang dia idolakan untuk membangun bangsa dan negara ini lebih serius, jujur dan ikhlas, bukan karena pamrih suatu jabatan atau kekuasaan agar langgeng dan dipilih oleh masyarakat.
Baca Juga: DInilai Kurang Strategis, Mayjend TNI Purn H. Tatang Zaenudin Soroti Posisi Gedung Baru KPU Cianjur
Dari berbagai pendapat dan masukan yang diperoleh dari warga masyarakat bawah di berbagai tempat dan daerah dalam berbagai kesempatan, iming-iming dalam bentuk apapun sudah tidak dapat mengubah sikap pilihan politik atau calon Presiden maupun calon legislatif yang doyan menggelontorkan bantuannya, hanya pada saat perlu dukungan rakyat.
Termasuk serangan fajar menjelang hari pelaksanaan pemilihan Capres dan Cawapres, legislatif maupun Kepala Daerah, rakyat sangat menyadari perlunya memilih mereka yang lebih tulus dan ikhlas berjuang untuk rakyat, bukan untuk dirinya sendiri, keluarga maupun kroninya yang telah terbukti membuat rakyat sengsara.
Jadi menurut versi Rahman Sulaiman, rakyat sekarang sudah cukup cerdas dan paham, jika salah memilih pemimpin maupun wakil rakyat di parlemen, maka rakyat juga yang akan menanggung derita dan nestapa itu selama mereka berkuasa. Sebab kepentingan rakyat tidak menjadi perhatian mereka yang maniak kekuasaan dan menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri dan keluarga mereka, termasuk para cecunguk dan begundal yang menghamba pada penguasa yang zalim itu.***