opini

Pesta Demokrasi Jangan Sampai Menambah Beban Berat Bagi Rakyat

Selasa, 9 Januari 2024 | 18:36 WIB
Pemilu 2024 (rri.co.id)

Oleh : Jacob Ereste

Kecerdasan spiritual itu membimbing kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual itu, mengkoreksi pilihan sikap spiritual agar dapat bersikap logik dan dapat singkong dengan akal sehat.

Bimbingan yang harus dilakukan spiritual terhadap pilihan sikap intelektual supaya tidak pongah, tidak jumawa dan tidak sesat melakukan kalkulasi yang selalu mengedepankan materi.

Baca Juga: Kandungan Daun Sirsak Untuk Kesehatan, Cek Disini

Karena nilai immaterial lebih mulia keberadaannya dibanding material. Sehingga sikap pilihan tidak terjerumus dalam dalam sikap dan sifat yang materialistik.

Kepongahan Intelektual sudah berulang kali dapat dibuktikan tergelincir pada materialisme, kapitalistik yang abai terhadap nilai-nilai spiritual yang selalu mengacu kepada suara darii langit.

Itulah sebabnya korup, inkonsistensi, khianat dan munafik hingga hipokrit begitu gampang dilakukan oleh mereka yang cuma mengandalkan basis intelektual kecerdasan akal yang tidak disertai oleh budi pekerti, etika dan moral yang bersemayam dalam hati nurani.

Baca Juga: Asep Rudiyana : Program Aspirasi H. Eddy Soeparno Sangat Dirasakan Masyarakat Cianjur

Nilai-nilai mulia kemanusiaan menjadi runtuh akibat mengedepankan akal tanpa hati nurani. Perang di Palestina itu merupakan contoh nyata dari hilangnya rasa kemanusiaan untuk menggenggam kekuasaan atas hak dan kemerdekaan orang lain, demi dan untuk kemerdekaan diri sendiri.

Hasrat ingin menang dalam Pemilu Pilpres, Pileg atau Pilkada dengan cara menghalalkan segala cara lantaran tidak adanya etika, moral dan akhlak mulia yang terjaga oleh laku spiritual yang mampu dipelihara dengan baik sebagai kodrat dari manusia sebagai makhluk paling mulia ciptaan Tuhan.

Jadi, hilangnya nilai-nilai dasar kemuliaan manusia sehingga tega melakukan kezaliman terhadap manusia yang lain akibat langsung dari keringnya energi spiritual yang dapat harus menuntun cara hidup bermasyarakat untuk saling menjaga kemuliaan manusia di muka bumi.

Bohong, dusta, menipu, khianat dan bersikap kejam dan keji kepada manusia yang lain, jelas karena terdegradasinya nilai kemanusiaan yang suci dan luhur itu, sehingga lebih suka mengedepankan kepentingan dirinya tanpa mengindahkan kepentingan maupun hak-hak orang lain.

Baca Juga: Sepuluh Prinsip Kepemimpinan Efektif

Egosentrisitas serupa ini menjadi pangkal muasal munculnya sikap rakus, tamak dan kemaruk bahkan hilangnya rasa malu seperti mereka yang gemar berjanji palsu. Sebab utamanya bukan cuma vibrasi spiritualnya telah mati, tetapi juga rusaknya mekanisme kerja rasa malu (etika), moral (tiada percaya akan dosa dan azab dari Tuhan) hingga akhlak pun meranggas tak memberikan buah apa-apa, karena terlibas oleh hawa nafsu yang serakah, rakus termasuk hasrat untuk berkuasa tanpa pernah memahaminya sebagai amanah yang harus dan patut mendapat legitimasi dari rakyat banyak.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB