Membaca Serangan PSI ke PDIP

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Senin, 7 Agustus 2023 | 12:12 WIB
Politik demokrasi, menghargai segala pandangan politik dan identitas politik yang argumentasinya didasarkan atas fakta dan data. (Sumber foto: fahum.umsu.ac.id) (LombokInsider.com)
Politik demokrasi, menghargai segala pandangan politik dan identitas politik yang argumentasinya didasarkan atas fakta dan data. (Sumber foto: fahum.umsu.ac.id) (LombokInsider.com)

Ditulis : Anton DH Nugrahanto

Dalam suasana politik liberal saat ini, berdirinya banyak partai tidak didasari pada pertimbangan ideologis, apalagi penguatan infrastruktur Partai. Bahkan ada partai baru yang ingin cepat besar tanpa melalui proses yang matang. Hal inilah yang berlaku pada PSI (Partai Solidaritas Indonesia); sebuah Partai yang didirikan, namanya meniru PSI (Partai Sosialis Indonesia) ala Sjahririan tapi tidak didasari pada ideologi sosialis Sjahrir. PSI lebih menampilkan kemampuan bermanuver ala Partai pragmatis yang mendasarkan pada entertainment gerakan muda yang tiba-tiba masuk politik dan dengan kekuatan yang baru itu mencoba menjadi “king maker” atas percaturan politik negeri ini. Cara yang paling mudah bagi PSI adalah mengganggu PDIP, mencoba membaca kelemahan PDIP, tapi kerap kali salah langkah dan salah kira. Dengan mengganggu PDIP, PSI mengira bisa menjadi king maker alternatif dari kekuatan nasionalis.

Baca Juga: Perbedaan Benar dan Merasa Benar

Percobaan pertama ingin menjadi King Maker adalah saat peristiwa Ahok. Saat itu PSI mengipas-ngipasi Ahok untuk bergerak tanpa dukungan Partai. Ahok dibiarkan sendiri dengan dibantu kelompok relawan. Saat itu ditubuh PSI selalu menghidupkan api kebencian pada Megawati, ini bisa terbaca dari catatan twitter Tsamara Amany yang kemudian hari hal itu disesali oleh Tsamara setelah keluar dari PSI.
Tapi akhirnya Ahok cepat sadar, tidak mudah terjebak pada bujuk rayu PSI yang mendorong jalan independen. Pro kontra pun terjadi dan ketika Ahok bergabung ke PDIP sangat terlambat akibat api yang dikipas oleh kader-kader PSI. Andai saja sejak awal Ahok mau masuk PDIP tentunya SBY, JK dan kelompok-kelompok radikal berhitung kalkulasinya dalam mempermainkan emosi agama dalam menghadapi Ahok.

Baca Juga: Jaringan Intelektual Muda (JIM) Menduga Ada Pungli Dana Program Bantuan Stimulan Swadaya (BSPS) Cianjur

Kasus kedua, ketika PSI menggunting dalam lipatan terhadap koalisi besar pendukung Jokowi dalam Pilpres 2019. Sebagai Partai Baru Ketum PSI saat itu Grace Natalie berpidato lantang di KPU (19 Feb 2019) melawan partai-partai mapan. Serangan Grace begitu mudah dipatahkan oleh Osman Sapta Odang dengan mengatakan “Jangan ajari itik berenang”. Setelah itu dalam setiap kesempatan PSI selalu menjadi duri dalam daging dalam koalisi Jokowi. Kadang PSI menyerang Golkar atas kasus korupsi, dan pada giliran lai, mereka melakukan serangan membabi buta ke Megawati dan PDIP. Disitu PDIP tetap bersikap bijak tanpa melakukan serangan balik karena menjaga soliditas pendukung Jokowi. Namun ketika dalam kampange terakhir di GBK, PSI menyalib ditikungan dengan memenuhi setiap penggir jalan di kompleks GBK dengan pajangan Baliho Grace dan PSI semua Partai yang bekerja keras untuk kemenangan Jokowi pun meradang melihat permainan “menyalip di tikungan ala PSI”. Terkuaklah dari mana PSI mendapat sponsor konglomerat yang konon jumlahnya di atas Rp. 2 Trilyun. Dana kampanye super jumbo ini tidak pernah diungkap oleh Ade Armando.

Baca Juga: Tanggapi Pelaporan ke Polisi, Rocky Gerung Tunggu Saja Proses Hukumnya

Kasus ketiga adalah ketika PSI mencoba memainkan king maker dengan merebut Ganjar Pranowo sebagai Capres yang dicalonkan PSI. Untung disini Ganjar melihat fungsi partai yang sesungguhnya sehingga Ganjar menyatakan merasa ‘tidak kenal’ dengan PSI. Lalu PDIP dengan langkah cerdik mengunci Ganjar agar segaris dengan PDIP dan disinilah PSI uring-uringan menyalahkan PDIP. Hal ini nampak ketika Ganjar menolak Israel, orang PSI bernama Ade Armando menyatakan bahwa Ganjar mengikuti perintah Megawati karena klenik. Disini terlihat sekali keterasingan Ade Armando terhadap ideologi Bung Karno terutama soal geopolitik apa yang dilakukan Ganjar dan Koster adalah soal pemahaman prinsip geopolitik Sukarno yang dipahami kader-kader PDIP. Sekaligus menandakan PSI terasing dengan konsep kader yang berwatak ideologis. Dalam berbagai tuduhannya, bahkan Ade Armando berusaha menenggelamkan PDIP. Jadi Ade Armando dan barisan PSI sepertinya ingin ambil jalan pintas.***

Isi tulisan diluar tanggungjawab redaksi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X