Fenomena Shalat Id Ala Pesantren Al Zaytun

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 2 Mei 2023 | 06:24 WIB
Ini sosok perempuan yang sholat Idul Fitri 1444 H di saaf laki laki di Ponpes Al Zaytun (Idul Fitri 1444 H Ponpes Al Zaytun/tangkapan layar)
Ini sosok perempuan yang sholat Idul Fitri 1444 H di saaf laki laki di Ponpes Al Zaytun (Idul Fitri 1444 H Ponpes Al Zaytun/tangkapan layar)

 
Oleh: Nanang Gojali

Baru-baru ini jagat media dan kaum netizen khususnya umat Islam dihebohkan dengan cara shalat tidak lazim di pesantren Al Zaytun, Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Baik MUI maupun NU, sebagaimana pengakuan Syeh Panji Gumilang, sudah memberikan respon dan pernyataan bahwa shalat berjamaah dengan menggunakan pola _social distancing_ sebagaimana pernah diberlakukan pada masa pandemi covid, secara fiqhiyyah adalah sah. Temasuk ada beberapa makmumah yang terselip di antara makmum laki-laki. Ketidaklaziman tidak berarti tidak sah.

Baca Juga: Putri Hijab Indonesia Jawa Timur 2023 Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat dan Pemeriksaan Gigi Gratis

Tetapi, meski shalat seperti itu sah secara fiqih bukan berarti boleh saja dilakukan apalagi praktek berjamaah seperti itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Berjamaah seperti itu sah tetapi bid'ah, sesuatu yang mengada-ada dalam urusan ibadah. Dan ini yang dimaksud dengan hadis "barangsiapa yang melakukan suatu ibadah yang tidak aku contohkan, maka hal itu tertolak".

Standar sah nya ibadah adalah fiqih (pendapat ulama mujtahid), sedangkan standar bid'ah adalah contoh dari Rasulullah. Konsekwensi ibadah yang tidak sah hanya kemungkinan tidak diterima sebagai ibadah. Sedangkan konsekuensi bid'ah yang sesat menyesatkan adalah masuk neraka, sebagaimana hadis yang sangat populer, كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Baca Juga: Banjir Sembahe, Tim SAR Gabungan Polda Sumut Diterjunkan ke Lokasi


Pada bagian narasinya belau mengakui tidak bermazhab kepada madzahibul arba'ah tetapi bermadzhab pemikiran kepada Bung Karno. No problem jika yang dimaksud pemikiran politik, sosial dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tetapi jika termasuk juga kepada pemikiran fiqih yang berkaitan dengan ibadah yang harus sesuai dengan contoh Rasulullah SAW, tentu pernyataan itu kebablasan. Dan agama ini akan kacau kalau urusan ibadah yang sudah jelas aturan dan madzhabnya, diutak-atik sedemikian rupa oleh pemikiran bebasnya manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X