Fakta Historis Dibalik Pembagian Juz Al-Qur’an

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 4 April 2023 | 11:32 WIB
Fakta Historis Dibalik Pembagian Juz Al-Qur’an
Fakta Historis Dibalik Pembagian Juz Al-Qur’an

Ibnu Katsir mengumpulkan pendapat beberapa ulama salaf tentang Al-Hajjaj. Berikut beberapa kutipan kontroversial dari Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah.

“Secara umum, Al-Hajjaj adalah bencana yang ditimpakan ke atas penduduk Iraq karena dosa-dosa masa lalu mereka dan perbuatan khuruj mereka kepada para pemimpin, menghinakan mereka, memaksiati mereka, menyelisihi mereka, dan tidak menghargai mereka.”

“Mereka menghitung jumlah manusia yang dibunuh oleh al-Hajjaj secara zalim (dibunuh dengan cara tidak diberi makan dan minum) mencapai sebanyak 120,000 orang." (Sunan at-Tirmidzi, 2220).

Namun Ibnu Katsir juga mengutip pernyataan beberapa ulama salaf yang memuji Al-Hajjaj:
"Diriwayatkan kepada kami dari beliau bahwa beliau (Al-Hajjaj) meninggalkan hal-hal yang memabukkan, banyak membaca al-Qur’an, menjauhi larangan-larangan, dan tidak dikenali sebagai orang yang pernah terjerumus dalam urusan kemaluan walaupun dia terlalu berani dalam hal menumpahkan darah. Maka Allah Ta’ala-lah yang lebih mengetahui kebenaran dan hakikat-hakikat segala urusan serta rahasia-rahasianya, serta hal-hal yang tersembunyi di dalam dada.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan: “Aku sedikitpun tidak merasa iri hati (dengki) terhadap Al-Hajjaj si musuh Allah itu, melainkan terhadap sikapnya yang cinta kepada Al-Qur’an dan sikap pemurahnya terhadap ahlul Qur’an, serta ucapannya sebelum wafat, “Ya Allah ampunilah aku, sesungguhnya manusia menyangka bahwa Engkau tidak bertindak (yakni tidak mengampuni beliau – pent.).”

Baca Juga: MT Bintulu Gelar Pelatihan Drill Crew Keselamatan Kerja di Atas Kapal

Imam asy-Sya’bi mengatakan, "Aku mendengar al-Hajjaj berkata dalam pembicaraannya yang tidak pernah diungkapkan oleh seorang pun sebelumnya:
"Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan kefanaan bagi dunia ini, dan menetapkan keabadian bagi akhirat. Maka tidak ada keabadian bagi yang telah ditetapkan kefanaan baginya. Oleh karena itu, janganlah keadaan dunia ini memperdayakan kalian dari keghaiban akhirat, dan redamlah panjangnya angan-angan dengan dekatnya ajal.”

Nama asli al-Hajjaj bin Yusuf adalah Kulaib. Dia lahir pada tahun 41 H. Gelar al-Hajjaj didapatnya karena dia banyak mematahkan tulang-tulang. Selanjutnya, nama yang justru populer adalah al-Hajjaj itu. Tentu, dari predikat yang lalu menjadi nama seseorang, kita sudah bisa membayangkan seperti apa sosoknya.

Hajjaj berasal dari kabilah Tsaqif, yang lalu dinisbahkan kepada namanya. Jadilah, al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Adapun kabilah Tsaqif tinggal di Thaif, sebuah kota di wilayah Hijaz yang mempunyai posisi strategis berkaitan dengan Islam dan Rasulullah SAW.

Hajjaj yang kontroversial memiliki dua sisi kepribadian yang berlawanan. Sisi positifnya, dikenal pandai berbahasa dan jago berpidato. Dia hafal Al-Qur’an dan sering mengulang-ulang bacaannya, terutama di malam hari. Sementara, sisi buruknya, dia kejam.

Pernah dia berpidato:
“Demi Allah, jika aku menyuruh manusia keluar dari pintu masjid kemudian mereka keluar dari pintu lain maka bagiku darah dan harta mereka telah halal”.

Kisahnya dengan Sa’id bin Jubair menggambarkan kebengisan Al-Hajjaj. Sai'id bin Jubair adalah seorang ulama Tabi’in. Dia berjumpa dengan banyak Sahabat Rasulullah dan meriwayatkan hadits dari mereka. Abdullah bin Abbas RA adalah salah satu sahabatnya. Sa’id adalah pakar tafsir dan fiqih.

Baca Juga: BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat Beberapa Daerah di Jawa Barat

Dalam konflik antara Al-Hajjaj dan Abdullah bin Zubair yang menolak berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, Sa’id bin Jubair ada di pihak Al-Asy’ats yang melawan Hajjaj.

Al-Hajjaj akhirnya bisa menangkap Sa’id bin Jubair. Terjadilah dialog dramatis.
“Celakalah kamu,” kata Hajjaj.
“Celakalah orang yang dijauhkan dari surga dan dimasukkan ke dalam neraka,” tukas Sa’id.
“Tebaslah batang lehernya,” seru Hajjaj. Sa’id bin Jubair pun wafat. Sebelum wafat dia sempat berdoa. “Ya Allah, janganlah Engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah aku,”

Kejadian pembantaian tersebut didengar oleh Hasan Bashri, seorang ulama Tabi’in terkemuka. Lalu beliau berdoa:
“Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Membinasakan orang-orang yang sewenang-wenang, hancurkanlah Hajjaj.”

Tiga hari setelah peristiwa sadis itu, lambung Al- Hajjaj dipenuhi belatung hingga menimbulkan aroma yang tidak sedap dan Hajjaj pun meninggal. Demikian, kata Ibnu Katsir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X