Pemikiran Prof. Dr. Maskuri, M.Si dalam buku Catatan dan Gagasan untuk Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama
Oleh: Dr. H. A. Zaki Mubarak (Dosen dan Ketua LPTNU Tasikmalaya)
Gagasan Universitas Islam Malang buat saya mengagumkan. *Unisma akan memindahkan kebesaran Al Azhar Mesir ke Indonesia* ujar rektor Unisma Malang Prof. Dr. Maskuri., M.Si. Saya terkejut dengan gagasan ini. Saya juga langsung merapat pada petinggi Unisma itu, apa maksud dan bagaimana langkah teknis memindahkan kebesaran Universitas al Azhar Mesir itu. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan tapi pernah terlintas di pikiran saya kenapa Mesir yang tak lebih kaya dari kita jadi pusat peradaban Islam dan jadi destinasi pendidikan Islam.
Ide gila itu saya yakin (dalam pikiran Prof. Maskuri) bermula dari pertarungan tawaran model Islam yang berkembang. Tentu dunia Islam sudah tidak tertarik pada Saudi Arabia (KSA) karena kekakuan Islam ala Wahabi. Pergeseran pusat Islam Aswaja dari Baghdad yang hancur lebur tentu ke Mesir dengan Al Azharnya. Masalahnya, kini Mesir hampir dikuasai Ikhwanul Muslimin yang agak berbeda moderasinya dengan pendirinya, Hasan Albanna. Pun aliran Wahabisme yang diekspor KSA menjalar di Mesir. Tinggal Al Azhar yang masih bertahan sebagai panji Aswaja meskipun "diserang" sana sini. Kata Maskuri Rektor yang sangat produktif ini.
Baca Juga: STAI Al-Azhary Cianjur, Kampus Swasta Miliki 2 Prodi Terakreditasi BAN-PT
Kondisi ini memprihatinkan. Perlu ada solusi. Tentu Al Azhar akan tetap terus dipertahankan, namun dari sisi peradaban, menggeser pusat itu hal yang biasa. Sepertinya model Islam yang berkelindan dengan demokrasi dan konsep nation-state bisa ditawarkan Indonesia. Aswaja yang memiliki progresifisme dan kental dengan moderasi beragama ada di Nusantara. Ini pula peluang yang diambil oleh Indonesia melalui UIII, Depok. Namun *gagasan ini pun ditangkap oleh PTNU yang senior bernama Unisma Malang*.
Sejatinya memindahkan Mesir ke Indonesia sangatlah mudah. Di samping secara infrastruktur Indonesia telah menjadi pusat kajian keislaman dunia, Indonesia pun memiliki kekhasan yang unik dan menarik jika dipoles dengan baik. Keragaman yang dimiliki ternyata menjadi kekuatan tersendiri bagi lahirnya Islam ala Unity in diversity. Islam Indonesia mampu bertahan dari segala ujian, baik politik-demokrasi maupun ujian internal keislaman yang diterjang aliran sana-sini. Indonesia masih bertahan dan mengukuhkan diri sebagai alternatif kajian Islam non-Arabic. Jika hanya karena tak berbahasa Arab lalu ditolak dunia maka ini terlalu naif.
Baca Juga: Tahun 2023, Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka Bakal Sasar 15.000 Peserta
Masalahnya apakah Indonesia mau dan siap? Saya sendiri sering bermimpi untuk menunjukan pada dunia bahwa Islam kita sangatlah cocok untuk masa depan. KSA saja hari ini sudah membuka jalan implementasi Islam ala Indonesia di Saudi, yang bagi kita itu sudah selesai. Tinggal kita proklamirkan dan bersiap diri unuk menjadi destinasi Kajian Islam dunia. Dunia pesantren mesti berubah arah kajiannya. Mesti lebih progresif mirip Hauzah Ilmiah Iran atau harus lebih produktif mirip kajian golden age Islam abad 1-5 saat itu. Pasti bisa. Saya yakin asal sedikit menghindari ultra konservatisme yang menolak pertumbuhan Islam sebagai tools kemajuan bangsa, menggeser ke arah progresifisme-adaptif.
Artikel Terkait
Setelah Jadi Bupati Subang, Harta Kekayaan H. Ruhimat Menurun Rp. 10 Milyar, Ini Penyebabnya
Raker Kemenag Cianjur: Kakanwil Jawa Barat Ingatkan 7 Program Prioritas Kemenag RI
Jelang ASEAN Summit 2023, Pemerintah Resmikan Jalan Pariwisata Labuan Bajo NTT
Jadi Sorotan Publik, KPK Panggil Kepala Kantor Bea Cukai Makassar Andhi Pramono
Panwaslu Desa Se-Kecamatan Pagelaran Gelar Patroli Gabungan
Prabowo Subianto Diangkat Jadi Keluarga Kopasgat TNI AU
Siswa SLB Diajarkan Menamam Sayuran di Kota Bandung
Ridwan Kamil Jadi Pembicara dalam Program Pendidikan Politik Partai Golkar
Kabar Duka, Orang Tua Ketua PWI Cianjur Tutup Usia
Muslim Amerika dan Islamophobia