Menakar Filosofi Istiqamah Menteri Agama RI di Tengah Dinamika Kontemporer

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 10 Juni 2026 | 06:45 WIB
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.  (Ist)
Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. (Ist)

Namun kebebasan tersebut sering kali disertai meningkatnya ujaran kebencian, konflik identitas, dan polarisasi sosial. Ruang publik dipenuhi perdebatan yang keras, sementara kemampuan mendengar dan memahami semakin berkurang.

Dalam konteks ini, hilm memiliki makna yang sangat mendalam. Hilm bukan hanya lembut hati dan kehati-hatian menyikapi sesuatu, tetapi kebijaksanaan yang lahir dari kematangan jiwa. Hilm adalah kemampuan mengendalikan emosi, menahan amarah, memaafkan, dan tetap bersikap bijak ketika menghadapi perbedaan.

Secara filosofis, hilm merupakan puncak kedewasaan moral. Orang yang memiliki hilm tidak mudah terseret oleh provokasi, tidak reaktif terhadap konflik, dan mampu melihat persoalan dengan perspektif yang lebih luas. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, hilm menjadi fondasi penting bagi terwujudnya kerukunan dan perdamaian.

ISTIQAMAH yang dipaparkan Prof.Dr.KH. Nasarudin Umar, M.A., sebagai Paradigma Peradaban. Artinya, jika ketujuh nilai tersebut dipadukan, maka lahirlah sebuah paradigma kehidupan yang utuh.

Ikhlas memberikan kemurnian niat, sabar memberikan ketangguhan, tawadhu melahirkan kerendahan hati, ihsan menghadirkan kualitas terbaik, qana'ah menciptakan ketenangan, amanah membangun kepercayaan, dan hilm menumbuhkan kebijaksanaan.

Dalam perspektif filosofis, ISTIQAMAH bukan hanya konsep individual, melainkan visi peradaban. Ia menawarkan jalan tengah antara kemajuan material dan kedalaman spiritual, antara kompetisi dan solidaritas, antara kebebasan dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang terus berubah, ISTIQAMAH menjadi kompas moral yang menjaga manusia agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya.

Dari filosofi ISTIQAMAH, bahwa tantangan terbesar era modern bukanlah semata-mata bagaimana menguasai teknologi atau memenangkan persaingan global, melainkan bagaimana menjaga integritas nilai di tengah perubahan yang begitu cepat.

Filosofi ISTIQAMAH mengingatkan bahwa kemajuan sejati hanya akan bermakna apabila disertai kematangan spiritual, kebijaksanaan moral, dan komitmen untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Dalam konteks inilah ISTIQAMAH bukan hanya slogan, melainkan jalan peradaban menuju manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berkeadaban.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB
X