Oleh: Silvia Khaerani Agustiani (Komisariat PMII STAI Kharisma Sukabumi)
Di sudut sebuah kafe yang riuh, dua orang sahabat duduk berhadapan. Di atas meja, dua cangkir kopi yang mulai mendingin menjadi saksi dari sebuah percakapan yang jarang mereka ungkapkan.
Sarah baru saja melewatkan kesempatan promosi jabatan di kantornya. Alasan yang didengarnya secara berbisik di koridor adalah karena ia baru menikah. “Nanti kalau dia punya anak, fokusnya pasti terbagi,” begitu kalimat yang sempat tertangkap oleh telinganya.
Sarah menatap cangkirnya, merasa seolah seluruh kerja keras dan lembur yang ia lakukan selama tiga tahun terakhir mendadak pudar hanya karena sebuah asumsi gender yang usang. Ia terjebak dalam stigma bahwa menjadi perempuan dewasa berarti harus memilih antara karier atau keluarga, seolah keduanya tidak bisa berjalan beriringan.
Di seberangnya, Rian mendengarkan dengan tatapan empati, namun ada binar kelelahan yang sama di matanya. Rian adalah seorang arsitek, namun beberapa bulan lalu ia memutuskan untuk mengambil cuti panjang demi merawat ibunya yang sakit sakral dan mengurus rumah.
Sejak saat itu, tatapan dari tetangga dan bahkan beberapa anggota keluarganya berubah. Laki-laki, dalam narasi yang dipercaya lingkungan sekitarnya, adalah pencari nafkah utama simbol kekuatan finansial yang tidak boleh goyah. Ketika Rian mengambil peran domestik, ia dianggap "turun kelas" atau kehilangan kejantanannya.
"Kadang aku merasa," kata Rian pelan, memecah keheningan, "dunia ini sudah menyiapkan kotak-kotak kecil sejak kita lahir. Kamu dimasukkan ke kotak merah muda, aku ke kotak biru. Dan kalau kita mencoba melangkah keluar dari kotak itu, kita dianggap aneh."
Sarah tersenyum getir. Apa yang dikatakan Rian adalah realitas dari isu gender yang selama ini sering dianggap hanya sebatas teori di dalam buku atau panggung seminar.
Isu gender bukan sekadar tentang "perempuan melawan laki-laki", melainkan tentang bagaimana ekspektasi kaku masyarakat mencengkeram kebebasan individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Perempuan sering kali harus berjuang dua kali lebih keras untuk membuktikan kompetensinya di ruang publik, menghadapi langit-langit kaca (glass ceiling) yang tidak terlihat namun nyata.
Sementara itu, laki-laki kerap kali dipaksa memakai topeng ketangguhan tanpa batas, dilarang menunjukkan kerapuhan atau mengambil peran pengasuhan tanpa dihakimi oleh konsep toxic masculinity.
Namun, percakapan sore itu tidak berakhir dengan keputusasaan.
Ketika mereka melangkah keluar dari kafe, malam mulai turun. Sarah tahu ia tidak akan diam; ia memutuskan untuk membawa masalah promosinya ke ruang HRD secara resmi keesokan harinya.
Ia ingin menuntut transparansi, bukan karena ia seorang perempuan, melainkan karena ia adalah profesional yang kompeten. Di sisi lain, Rian menggenggam ponselnya, membalas pesan grup keluarga dengan bangga bahwa sup buatannya hari ini berhasil membuat kondisi ibunya membaik.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dua Poros Peradaban Dunia (Bagian 2222)
Layakkah Desain Pendidikan Ki Sunda Kontemporer Diterapkan?
Kepulangan Kakang Rudianto dan Robi Darwis Picu Lautan Bobotoh di Cianjur, Kapolres Pimpin Pengawalan
Dadang Sugianto Kembali Nakhodai BKPRMI Cianjur, Fokus Jadikan Masjid Pusat Ekonomi Umat
Mutiara Pagi: Manusia Paripurna (Bagian 2223)
Lepas dari Gadget, Le Eminence Puncak Ajak Anak 'Kembali ke Alam' di Liburan Sekolah
Sasar Petani dan Pedagang Kecil, TMI bersama APPSI Cianjur Salurkan Ratusan Paket Daging Qurban
Iduladha Penuh Kepedulian, PCNU Cianjur Kurbankan 1 Sapi dan 7 Domba
Isu Akses Pendidikan, Sebuah Ketimpangan yang Perlu Dijembatani
Ketua Himpunan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Nasional Jakarta, Fatirahma Hanipa, Gelar Kegiatan Kurban Wujud Kepedulian Sosial di Cianjur