Dekonstruksi Makna Rahmah: Menguji Empati Ritualis vs Empati Praksis dalam Kurikulum Karakter

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 23 Februari 2026 | 14:36 WIB
Mudik Gratis 2026 dari Pemerintah Kabupaten Malang rute Malang menuju Bangkalan hingga Sumenep. (Foto: Unsplash.com/@Jonathan Borba)
Mudik Gratis 2026 dari Pemerintah Kabupaten Malang rute Malang menuju Bangkalan hingga Sumenep. (Foto: Unsplash.com/@Jonathan Borba)

Oleh: Muhammad Ilyas Ismail

Pendahuluan
Fase sepuluh hari pertama Ramadhan, yang secara teologis diidentifikasi sebagai fase Rahmah (kasih sayang), sering kali terjebak dalam selebrasi artifisial.

Dalam institusi pendidikan, Rahmah kerap diajarkan sebatas doktrin tekstual tanpa menyentuh akar transformasi perilaku.

Tulisan ini bertujuan mendekonstruksi pemahaman Rahmah dengan membedakan antara "Empati Ritualis" yang bersifat performatif dan "Empati Praksis" yang seharusnya menjadi luaran utama kurikulum karakter.

Ramadhan sering kali hadir sebagai rutinitas kesalehan yang terjebak dalam ruang kedap sosial, di mana fase Rahmah kerap direduksi menjadi sekadar sentimen emosional yang pasif dan musiman.

Dalam ekosistem pendidikan, kurikulum karakter sering kali gagal melampaui batas "simpati administratif" sebuah kondisi di mana siswa diajarkan untuk merasa kasihan tanpa diajak memahami akar penderitaan atau menghargai martabat penerima secara utuh.

Penjelasan ini akan melakukan dekonstruksi terhadap praktik tersebut, menguji apakah pendidikan karakter kita hanya mampu menghasilkan Empati Ritualis yang berhenti pada seremoni berbagi, ataukah ia sanggup menginkubasi Empati Praksis yang menggerakkan kesadaran siswa untuk menjadikan kasih sayang sebagai alat transformasi sosial yang membebaskan.

"Rahmah yang sejati tidak ditemukan dalam air mata yang jatuh karena melihat kemiskinan, tetapi pada tangan yang gemetar karena menyadari bahwa penderitaan orang lain adalah separuh dari kegagalan kemanusiaan kita sendiri; ia adalah jembatan yang dibangun bukan untuk melangkahi si miskin, melainkan untuk berjalan beriringan bersamanya menuju martabat yang setara."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB
X