JOURNALNUSANTARA.COM - Hampir seluruh nama ibadah dalam Islam menggunakan istilah asli dari bahasa Arab, seperti syahadat, shalat, zakat, dan haji. Namun, fenomena menarik terjadi pada ibadah menahan diri di bulan Ramadan yang di Nusantara lebih populer dengan sebutan puasa dibandingkan istilah aslinya, shaum. Hal ini diyakini sebagai hasil ijtihad para mubaligh awal yang memperkenalkan Islam di Nusantara dengan menggunakan terminologi yang sudah akrab di telinga masyarakat saat itu.
Secara etimologi, kata puasa berasal dari bahasa Sansekerta upavasa atau upawasa, di mana upa berarti dekat atau mendekatkan diri, dan vasa berarti Kuasa atau Yang Maha Kuasa. Penggunaan istilah ini menandakan adanya asimilasi budaya yang cerdas, sekaligus penegasan bahwa ibadah spiritual ini memiliki akar yang universal di berbagai tradisi. Tujuan utama dari upawasa adalah membawa pelakunya untuk berada dalam posisi dekat dengan Tuhan, selaras dengan pesan dalam Al-Baqarah ayat 186 yang menyatakan bahwa Allah itu dekat bagi hamba-Nya yang bertanya.
Sementara itu, istilah shaum sendiri secara harfiah berarti menahan diri. Praktik ini tidak hanya berdimensi fisik melalui penahanan lapar dan dahaga dari fajar hingga matahari terbenam, tetapi juga mencakup dimensi batiniah yang lebih dalam. Dalam tradisi sufi dan kisah para nabi, seperti Maryam dan Zakaria, shaum juga melibatkan upaya menahan diri dari bicara, pikiran, dan imajinasi liar melalui proses berkhalwat atau uzlah untuk menjinakkan ego atau diri rendah manusia.
Tujuan akhir dari proses menahan diri ini adalah pencapaian derajat taqwa, yang dimaknai sebagai rasa kehadiran Tuhan secara nyata dalam setiap aspek kehidupan. Ketika seseorang berhasil mengendalikan keinginan diri rendahnya, maka kesadaran akan Diri Ketuhanan akan mengaktual. Dengan demikian, istilah upawasa sangat tepat merepresentasikan hakikat shaum, yakni sebuah perjalanan spiritual untuk kembali menyatu dan mendekat kepada Diri Yang Maha Kuasa melalui pengendalian diri yang total.
Taqwa bukan sekadar konsep formalitas, melainkan kekuatan moral atau mystical power yang melahirkan keberanian serta kemuliaan jiwa. Manusia yang bertaqwa tidak akan mudah tunduk pada godaan koruptif atau ketakutan duniawi karena vibrasi ketuhanan senantiasa hadir dalam dirinya. Melalui pemaknaan ini, puasa seharusnya tidak lagi dipandang sebagai ritual lapar dan haus belaka, melainkan sebuah sarana untuk melahirkan pribadi yang sakti secara spiritual, berani, dan benar-benar mulia di hadapan Sang Pencipta.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Uji Diri (Bagian 2125)
Keutamaan Bulan Ramadhan
Mutiara Pagi: Mereka Saudaramu (Bagian 2126)
Ramadhan Emotional Healing: Saat Allah SWT Memeluk Luka-Luka Hati Kita?
Masjid Agung Cianjur dan Sekolah Dasar Berkolaborasi Perkuat Akhlak Siswa Melalui Pesantren Kilat
Ngabuburit, Grand Aston Puncak Gelar Little Modest Style Ramadhan Ajang Fashion Anak di Bulan Suci
Luma Cafe Hadirkan Konsep Coffee Shop Modern di Kawasan Industri Jababeka Cikarang
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Ramadan Karim, Momentum Transformasi Diri dan Penguatan Silaturahmi Umat (Bagian 27)
Mutiara Pagi: Belas Kasih (Bagian 2127)
Muslihat Snouck Hurgronje, Intelektual di Balik Tragedi Perang Aceh