Agama Benar

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 18 Februari 2026 | 07:45 WIB
Potret destinasi wisata alam bernuansa pedesaan yang menawarkan panorama hamparan perkebunan teh serta udara sejuk pegunungan. (YouTube Life Experience Channel )
Potret destinasi wisata alam bernuansa pedesaan yang menawarkan panorama hamparan perkebunan teh serta udara sejuk pegunungan. (YouTube Life Experience Channel )


Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, pada Selasa, Rabu, dan Kamis ini, Indonesia menggelar parade tiga jalan penemuan jatidiri: Imlek, Rabu Abu, dan awal Puasa Ramadhan.

Jalan beda warna sukacita, teduh, hening namun bertemu pada satu muara: pencarian makna dan penjernihan hati.

Di antara ragam agama dan kepercayaan, kuyakini hanya ada satu yang benar: agama penyerahan diri pada keluhuran Yang Tak Terhingga, kasih sayang pada segala ciptaan, keberpihakan pada kebenaran, kebaikan, keadilan, dan keindahan.

Agama yang benar bukanlah tembok, melainkan jembatan. Ia seperti lentera Imlek yang menerangi tanpa membakar perbedaan; seperti abu di dahi yang menorehkan kerendahan hati; seperti puasa yang melatih batin agar tak dikuasai angkara nafsu dan ego.

Suatu ketika, Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lama, “Yang Mulia, apakah agama terbaik?” Ia menjawab, “Agama terbaik adalah agama yang membuatmu lebih dekat kepada Tuhan yang menjadikanmu manusia yang lebih baik.”

Ukuran kebenaran bukanlah nama, melainkan nurani yang bertumbuh; bukan klaim yang lantang, melainkan laku yang baik.

Pope Francis mengingatkan, hidup bagi orang lain adalah hukum alam: sungai tak minum airnya sendiri, pohon tak makan buahnya sendiri, mentari tak bersinar bagi dirinya. Kita dilahirkan untuk saling membahagiakan.

Sebagaimana diungkapkan Ali bin Abi Thalib, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Ia memberi bagian yang sama kepada bangsawan Quraisy dan perempuan Yahudi dari Afrika, seraya menegaskan bahwa di hadapan Kitabullah tak ada kelebihan satu atas yang lain. Di hadapan keadilan, semua manusia setara.

Jika Imlek mengajarkan cahaya harapan, Rabu Abu kerendahan hati, dan Ramadhan pengendalian diri, maka agama yang benar adalah ketika cahaya itu kita bagi, kerendahan hati itu kita hayati, dan pengendalian diri itu kita wujudkan dalam keadilan sosial.

Pada akhirnya, agama bukan sekadar ritual, melainkan transformasi cara Tuhan hadir dalam perlakuan kita terhadap sesama.

Bila seseorang menjadi cahaya bagi sekitar, teduh bagi yang lelah, dan adil bagi yang lemah, ia telah berjalan di jalan yang benar: jalan cahaya dan rahmat bagi semesta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X