Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Teguh dalam Berusaha, Tenang dalam Menerima (Bagian 26)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 13 Februari 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi usaha ternak domba dan kambing (youtube Cafe JP)
Ilustrasi usaha ternak domba dan kambing (youtube Cafe JP)

JOURNALNUSANTARA.COM - Hidup sering kali menyerupai sebuah perjalanan di samudera yang luas. Kita adalah nakhoda yang memiliki kendali penuh atas kemudi, namun sama sekali tidak memiliki kuasa atas arah angin maupun tingginya gelombang.

Dalam dinamika inilah, filosofi "Teguh dalam Berusaha, Tenang dalam Menerima" menjadi jangkar yang menjaga kewarasan dan martabat manusia.

Keteguhan dalam berusaha adalah manifestasi dari kehormatan diri. Berusaha bukan sekadar soal bekerja keras, melainkan tentang konsistensi dan integritas di tengah gempuran kesulitan.

Saat kita memiliki tujuan, keteguhan berperan sebagai mesin yang terus berderu meski lelah mulai menyapa. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita kepada potensi yang telah Tuhan titipkan.

Tanpa keteguhan, mimpi hanyalah angan yang mudah buyar saat diterjang kegagalan pertama. Kita wajib mengerahkan seluruh kecerdasan, tenaga, dan waktu, seolah-olah seluruh hasil akhir bergantung sepenuhnya pada keringat yang kita cucurkan.

Namun, sisi lain dari mata uang kehidupan adalah penerimaan. Di sinilah banyak orang terjebak dalam kekecewaan yang mendalam karena mereka mencoba mengendalikan hal-hal yang di luar jangkauan manusia.

Ketenangan dalam menerima bukan berarti menyerah atau bersikap apatis. Sebaliknya, itu adalah bentuk keberanian spiritual yang paling tinggi. Setelah semua usaha maksimal dilakukan, ada sebuah titik di mana kita harus "melepaskan."

Menerima hasil dengan tenang berarti memahami bahwa ada garis takdir dan hukum semesta yang bekerja. Jika hasilnya manis, ketenangan menjaga kita agar tidak tinggi hati.

Jika pahit, ketenangan mencegah kita dari kehancuran mental. Dengan prinsip ini, kebahagiaan kita tidak lagi didikte oleh angka di rekening atau validasi eksternal, melainkan oleh kepuasan batin bahwa kita telah memberikan yang terbaik.

Pada akhirnya, orang yang paling tangguh adalah mereka yang mampu bekerja sekeras baja, namun memiliki hati selembut sutra saat menerima apa pun yang digariskan semesta.

Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X