Oleh: Riyan Zaenur Anwar (Bendahara Umum PC PMII Cianjur)
Disudut kota, di warung sederhana dekat kampus, secangkir kopi sering menjadi saksi bisu lahirnya gagasan besar.
Bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kopi bukan sekedar pengusir ngantuk akan tetapi kopi bagian dari penyampaian nilai-nilai keadilan, kebenaran dan kejujuran kemudian menjadikan medium kebersamaan, refleksi untuk pergerakan.
PMII lahir dari pemikiran kritis dan semangat perubahan. Nilai Ahlussunnah Wal Jama’ah, keislaman, ke Indonesia an dan kemahasiswaan tidak hanya dibahas di ruang-ruang formal saja seperti kegiatan kaderisasi dan konferensi cabang.
Nilai nilai itu justru sering menemukan maknanya di meja kopi, ketika disksusi mengalir tanpa batas.
Secangkir kopi mengajarkan kesederhanaan, rasanya pahit namun jujur seperti realitas sosial yang kerap dibahas kader PMII: ketidak adilan, kemiskinan, krisis moral dan problem pendidikan.
Kopi tidak pernah menipu rasanya, sebagaimana kader kader PMII dituntut untuk jujur membaca realitas dan berani menyuarakan kebenaran.
Di tengah kepulan asap roko dan denting sendok kecil, lahir dialektika kader kader muda belajar berdialog, mendengar, dan menghargai pendapat. Lebih dari itu, kopi juga merepresentasikan kedekatan PMII dengan rakyat.
Warungkopi adalah ruang publik paling jujur apalagi melihat KUHP Hari ini semakin mempersempit untuk para kaum civil society, tempat mahasiswa, buruh, petani dan pedagang duduk sejajar.
Di sanalah kader PMII belajar mendengar langsung suara masyarakat, bukan hanya membaca teori. Dari obrolan sederhana itulah lahir kesadaran bahwa intelektual sejati harus berpihak dan membumi.
PMII dan secangkir kopi pada akhirnya adalah tentang kesederhanaan yang bermakna.
Tentang merawat nalar kritis tanpa kehilangan kehangatan persaudaraan, tentang perjuangan yang tidak selalu dilakukan di mimbar megah, tetapi juga di bangku kayu kopi, dengan hati yang jujur dan pikiran yang terbuka.
Artikel Terkait
Sampah di Jalanan Tangsel: Ketika Kolaborasi Antaraktor Terhambat dan Tata Kelola Kehilangan Arah
Pasar Murah Hari Desa Nasional 2026 di Boyolali Hadirkan Sembako Terjangkau dan Lele Gratis
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Memperbanyak Taubat untuk Meraih Ampunan di Bulan Rajab (Bagian 21)
MBG di Cianjur: Dapur Tanpa Izin, Makanan Bermasalah, dan Negara yang Datang Belakangan
Mutiara Pagi: Terus Berbenah (Bagian 2085)
Dari High Heels ke Apron: Narasi Career Woman To Housewife
Ritual “Self Reward” atau Jebakan Hasrat?
Tiga Kandidat Siap Berebut Kursi Ketua PC PMII Cianjur dalam Konfercab XXII
Miss Bintang Indonesia, Beauty Pageant sebagai Ruang Ekspresi Perempuan di Era Budaya Populer
Mutiara Pagi: Hari Terima Kasih (Bagian 2086)