JOURNALNUSANTARA.COM - Suatu hari, seorang santri kedapatan mencuri. Sebelum diserahkan kepada Kiai Abdul Hamid Muin, ia berusaha melarikan diri ke arah timur pondok menuju area persawahan. Para santri dan ustaz segera mengejar, namun Kiai Hamid meminta mereka untuk berhenti mengejarnya.
Secara mengejutkan, si pencuri tiba-tiba merasa tubuhnya sangat lemas dan terduduk lesu. Ia merasa bingung karena pemandangan sawah dan jalan setapak yang hijau seketika berubah menjadi lautan samudera yang sangat luas di matanya. Karena rasa takut dan tidak bisa menyeberang, ia akhirnya pasrah hingga mudah ditangkap oleh para santri.
Kisah tersebut merupakan salah satu karamah Kiai Hamid yang dikenang para alumni. Sejak kecil, beliau memang sudah menunjukkan keistimewaan. Kakek beliau, Kiai Mansyur, pernah mengujinya dengan menyuruh memilih alat di sebuah ruangan. Kiai Hamid kecil memilih senter dan palu.
Beliau menjelaskan bahwa senter digunakan untuk menerangi jalan yang gelap dan melihat orang lain tanpa terlihat. Sedangkan palu dipilih karena kegunaannya untuk memperbaiki sesuatu serta meluruskan hal yang bengkok. Jawaban cerdas ini membuat sang kakek tersenyum bangga.
Kiai Hamid merupakan lulusan murni Pondok Pesantren Bettet Pamekasan tanpa mengenyam pendidikan formal. Meski demikian, beliau sangat disegani oleh kalangan akademisi dan pejabat. Tokoh nasional seperti Gus Dur bahkan pernah berkunjung dan betah berlama-lama berdiskusi dengan beliau mengenai isu politik nasional dan Nahdlatul Ulama.
Sebagai sosok yang penuh kharisma, kehadiran Kiai Hamid selalu mampu membuat suasana majelis yang gaduh menjadi hening dan khidmat. Beliau selalu menekankan pentingnya tauhid dan akhlak kepada para santrinya. Bahkan seminggu sebelum wafat, beliau berpesan berkali-kali kepada orang dekatnya agar menyampaikan pentingnya menjaga aqidah dan akhlak kepada seluruh santri dan alumni.
Banyak kisah karamah dan keteladanan beliau yang berhasil dikumpulkan oleh Kiai Muhammad Yusuf Aziz dari para alumni sepuh. Kisah-kisah ini dituliskan kembali sebagai bentuk penghormatan dan teladan atas jasa besar Kiai Hamid bagi dunia pesantren dan masyarakat.
Sumber :
* PP. Darul Ulum Banyuanyar
* Pegiat Budaya. Kini mengabdi di Lajnah Ta'lif wa An-Nasr, Jatman NU Pamekasan. Founder Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.
Artikel Terkait
Kenangan di Penghujung Liburan
Tim yang Berlaga di Babak 16 Besar AFC Champions League Two
Cara Efektif Menjaga Rumah Tetap Aman dari Gangguan Kecoa, Semut dan Cicak
Pilihan Minuman Hangat Penyejuk Tubuh Saat Musim Hujan
Mutiara Pagi: Senyum “Jos-Jis” (Bagian 2080)
Kenangan dan Impian
Jelang Konfercab, Pendaftaran Calon Ketua Cabang dan Ketua KOPRI PMII Cianjur Resmi Dibuka
Mutiara Pagi: Hadiah Terindah (Bagian 2081)
Kenapa Program Makan Bergizi Gratis Butuh Kolaborasi Lintas Sektor?
Mutiara Pagi: Seribu Mimpi (Bagian 2082)