NU: Dulu, Kini, dan Nanti, Antara Idealisme dan Realita

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 27 November 2025 | 05:57 WIB

Oleh: Jamiludin, S.Pd.I., MM (Wakil Ketua PCNU Cianjur)

Tujuan NU Didirikan

Nama Nahdlatul Ulama (NU), yang diusulkan oleh KH. Mas Alwi Abdul Aziz dan disepakati oleh para kiai pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M, memiliki arti yang sangat krusial dan substansial. Nama ini dimaknai sebagai upaya pengorganisasian potensi dan peran ulama pesantren yang sudah ada untuk ditingkatkan dan dikembangkan secara lebih luas.

Keinginan untuk meningkatkan pengabdian secara luas ini tercermin jelas dalam rumusan cita-cita dasar di awal berdirinya NU, yang diwujudkan dalam bentuk ikhtiar-ikhtiar sebagaimana tercantum dalam Statuten/Statuta Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama tahun 1926 pasal 3:

"Mengadakan perhoeboengan di antara Oelama-oelama jang bermadzhab, soepaja diketahoei apakah itoe dari kitab-kitab Ahli Soennah wal Djama’ah atau kitab-kitab Ahli Bid’ah. Menjiarkan agama Islam berazaskan pada madzhab empat dengan djalan apa sadja jang baik, berikhtiar memperbanjak madrasah-madrasah jang berdasar agama Islam, memperhatikan hal-hal jang berhoeboengan dengan masdjid-masdjid, soeraoe-soeraoe, dan pondok-pondok, begitoe joega dengan hal ihwalnja anak-anak jatim dan orang-orang jang fakir miskin, serta mendirikan badan-badan oentoek memajoekan oeroesan pertanian, perniagaan jang tiada terlarang oleh sjara’ agama Islam.”

Cita-cita ideal tersebut merupakan cikal bakal, pondasi dasar, visi, dan misi paling awal yang menerjemahkan maksud didirikannya organisasi NU. Secara internal, tujuan ini mempertegas posisi Jamiyyah/Organisasi, dan secara eksternal menunjukkan maksud, tujuan, serta usaha organisasi NU sejak awal pendiriannya.

Antara Idealisme dan Realita

Seiring berjalannya waktu, sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan (Jam'iyyah Diniyyah Ijtima'iyyah), NU terus bertransformasi. Organisasi ini menerapkan prinsip dasar Al-Muhafadzah Alal Qadim As-Shalih Wa Al Akhdu Bil Jadid Al Ashlah (mempertahankan dan melestarikan warisan tradisi kultural yang baik, serta menerima inovasi/budaya baru yang lebih baik yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam). Transformasi ini terjadi baik dari sisi manajerial maupun program-program untuk kemaslahatan agama, masyarakat, dan bangsa Indonesia.

Ibarat NU sebagai "bis kota" yang menampung banyak penumpang dengan berbagai latar belakang profesi dan kultur, terdapat tantangan tersendiri dalam "mengurus" warga NU (Nahdliyyin) yang jumlahnya sangat banyak (diperkirakan mencapai 56,9% atau 159 Juta dari 280 juta warga negara Indonesia).

Mengutip pernyataan Wakil Ketua Umum PBNU Dr (HC) KH. Zulfa Mustofa, bahwa orang NU itu "gampang kumpul, susah baris," (mungkin) memang benar adanya.

Mudah Kumpul: Nahdliyyin mudah diajak berkumpul untuk kegiatan organisasi maupun kegiatan keagamaan yang menjadi tradisi.

Susah Baris: Namun, sering kali kesulitan saat dihadapkan pada implementasi program organisasi, seperti:

Pendirian koperasi yang sering kali tidak terwujud secara fungsional.

Pembangunan rumah sakit atau lembaga pendidikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X