Journalnusantara.com - KH. Maimoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen, seringkali berbagi kisah mengharukan dari masa muda ayahnya, Kiai Zubair. Kiai Zubair menyaksikan sendiri bagaimana rombongan dari Makkah menuju Madinah mengalami fenomena luar biasa.
Kendaraan mereka, seperti unta atau keledai, akan berlari kencang tanpa kendali saat mulai melihat kubah hijau yang menjadi penanda Makam Rasulullah SAW. Mereka seolah tak terbendung, didorong oleh kerinduan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
Fenomena yang penuh makna ini juga terekam dalam syair-syair indah Imam Ibnu Daiba’, yang menggambarkan betapa dahsyatnya kerinduan tersebut:
ألـم ترها وقد مدت خطاها وسالت من مدامعها سحائب
"Tidakkah engkau lihat unta itu semakin cepat langkahnya, bercucuran deras dari matanya, bagaikan hujan yang tercurah dari mendung."
فدع جذب الزمام ولا تسقها فقائد شوقها للحي جاذب
"Maka biarkanlah, jangan tarik tali kekang dan janganlah kau menggiringnya, karena yang menariknya adalah kerinduan pada Nabi Muhammad."
فهم طربا كمـاهامت والاَّ فانَّكَ فِـى طريقِ الـحبِّ كاذب
"Luapkanlah rasa cintamu sebagaimana yang dilakukan unta, dan jika tidak, maka cintamu pada Nabi adalah dusta."
اَما هذا العقيق بدا وهذى قِبابُ الحيِّ لاحتْ والـمضارب
"Perhatikan, kota Aqiq telah nampak, dan inilah kubah Nabi yang terang cahayanya."
وتلك القبة الخضراء فـيها نبي نوره يجلو الغياهــب
"Dan itulah kubah yang hijau dan Nabi bermakam di sana. Seorang Nabi yang cahayanya menerangi kegelapan."
Mbah Moen menyayangkan, di masa sekarang, banyak umat yang "tertipu" oleh amal atau mungkin karena kurangnya pemahaman.
Artikel Terkait
Saatnya Memberi "Titik Tekan" pada Upaya Meragamkan Pola Makan
KH Abbas Abdul Jamil Buntet, Selangkah Menuju Pahlawan Nasional
Mitos Kelangkaan Berlian: Mengungkap Strategi di Balik Kilau Harga
Menanam Cabai di Rumah, Hobi Menyenangkan dan Hasil Menguntungkan
Makan Enak Tapi Tetap Harus Menjaga Asupan Gizi Kunci Hidup Sehat
Mutiara Pagi: Dengan Pagi (Bagian 1874)
Mutiara Pagi: Pemuja Diri Sendiri (Bagian 1875)
Kebenaran yang Terperangkap dalam Gema Kemenangan
Etika Islam Menjaga Keseimbangan Ekosistem Alam dan Lingkungan
Naratas Jalan Lawas: Antara Romantika Akar dan Ironi Bangsa yang Lupa Diri