Beasiswa Membangun Desa dan Tikar yang Belum Dibentang

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 11 April 2025 | 14:30 WIB

Tikar Belum Dibentang

Pertanyaan terbesarnya adalah apa yang disiapkan bagi mahasiswa yang nanti diminta pulang membangun desa? Apakah ada fasilitas kerja, ruang inovasi, atau minimal koneksi internet yang stabil?

Atau mereka akan pulang hanya untuk menemukan bahwa gelar sarjana tidak ada artinya di hadapan jalan berlubang dan aparat desa yang bingung harus menempatkan mereka di mana?

Beasiswa yang digembar-gemborkan ini berpotensi menjadi simbol belaka. Tanpa perangkat kebijakan yang rinci dan terukur, ia hanya menghasilkan harapan palsu. Dan ketika harapan itu tidak terpenuhi, justru akan lahir kekecewaan kolektif baru terhadap pemerintah.

Bukan Soal Niat, tapi Sistem

Membangun desa bukan soal niat baik semata. Ia butuh sistem. Ia butuh rancangan. Ia butuh tikar yang dibentang sebelum tamu datang. Kalau serius ingin mengundang anak muda kembali ke desa, pastikan dulu bahwa pintunya terbuka dan ruangnya layak ditempati.

Beasiswa bisa menjadi alat penting tetapi hanya jika ia lahir dari kebijakan yang transparan, tidak berubah-ubah, dan benar-benar memihak rakyat. Bukan sekadar jadi hiasan politik menjelang pemotretan proyek pembangunan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X