Tikar Belum Dibentang
Pertanyaan terbesarnya adalah apa yang disiapkan bagi mahasiswa yang nanti diminta pulang membangun desa? Apakah ada fasilitas kerja, ruang inovasi, atau minimal koneksi internet yang stabil?
Atau mereka akan pulang hanya untuk menemukan bahwa gelar sarjana tidak ada artinya di hadapan jalan berlubang dan aparat desa yang bingung harus menempatkan mereka di mana?
Beasiswa yang digembar-gemborkan ini berpotensi menjadi simbol belaka. Tanpa perangkat kebijakan yang rinci dan terukur, ia hanya menghasilkan harapan palsu. Dan ketika harapan itu tidak terpenuhi, justru akan lahir kekecewaan kolektif baru terhadap pemerintah.
Bukan Soal Niat, tapi Sistem
Membangun desa bukan soal niat baik semata. Ia butuh sistem. Ia butuh rancangan. Ia butuh tikar yang dibentang sebelum tamu datang. Kalau serius ingin mengundang anak muda kembali ke desa, pastikan dulu bahwa pintunya terbuka dan ruangnya layak ditempati.
Beasiswa bisa menjadi alat penting tetapi hanya jika ia lahir dari kebijakan yang transparan, tidak berubah-ubah, dan benar-benar memihak rakyat. Bukan sekadar jadi hiasan politik menjelang pemotretan proyek pembangunan.
Artikel Terkait
Tips Merawat Wajah Tetap Cantik Alami
Membentuk Badan Ideal Secara Alami
Pertempuran Ciranjang Cianjur 1946, Perjuangan Pahlawan Menghadapi Penjajah
Halal Bihalal SMP Negeri 3 Cibeber, Pererat Silaturahmi Warga Sekolah
Mutiara Pagi: Sangkan Paraning Dumadi (Bagian 1806)
TATKALA BULOG BERBURU GABAH
Bergugurannya Dosa Ketika Sujud dan Rukuk Waktu Shalat
Sambut Kunjungan Gubernur, Cianjur Gelar Gerakan Kebersihan Menyambut Launching "Nyaah Ka Indung"
Bedah Buku K.H. Ahmad Muhtadi: Seruan Pelestarian Nilai Perjuangan dan Keilmuan
Mutiara Pagi: Di Ujung Waktu (Bagian 1807)