Oleh Mohamad Sinal
Bulan suci adalah pintu gerbang menuju penyucian jiwa. Layaknya kupu-kupu yang beranjak dari kepompongnya, manusia diajak untuk keluar dari keterbelengguan nafsunya. Menuju cahaya yang lebih terang, jernih, dan dalam maknanya.
Fariduddin Attar, dalam mahakaryanya Mantiq at-Tayr, menggambarkan puasa sebagai perjalanan ruhani. Puasa bagai burung terbang menuju Simurgh, sang hakikat sejati. Bulan suci, seperti gurun yang harus dilintasi para musyafir sejati.
Puasa mengajarkan keteguhan dalam menghadapi dahaga duniawi. Ia bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menuntun hati menempuh lorong sunyi. Di mana keheningan menjadi guru, dan rasa lapar dan haus menjadi kunci penghambaan diri.
Yazid Al-Bustomi pernah berujar, "Aku ingin keluar dari diriku seperti seekor ular yang meninggalkan kulitnya." Inilah hakikat lembaran baru yang sejati. Bulan suci bukan hanya sekadar pergantian hari, melainkan kesempatan untuk mengganti lapisan-lapisan jiwa yang telah kusam.
Puasa mengundang manusia untuk menanggalkan egonya. Membersihkan sisa-sisa kesombongan, dan merangkul kefanaan dalam penghambaan. Kemudian, membuang jauh sikap dengki, iri hati, dan sejenisnya.
Dalam setiap doa yang melayang ke hadapan-Nya, bulan suci mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah soal memiliki, melainkan melepaskan. Melepaskan beban masa lalu, menghapus jejak amarah. Menguraikan simpul kesedihan yang bersemayam di dalam dada.
Ibn ‘Arabi telah menasihati kita bahwa hati yang bersih adalah cermin yang memantulkan cahaya Ilahi? Lantas, bagaimana mungkin kita berharap menemukan cahaya itu jika cermin kita tertutup debu keangkuhan dan noda kebencian?
Puasa, pada hakikatnya, bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Namun, juga menahan diri dari hal-hal yang meredupkan cahaya batin. Lidah yang terbiasa tajam bagai pedang, dalam bulan ini diajak untuk menjadi embun yang menyejukkan.
Tangan yang terbiasa menggenggam erat dunia, diajak untuk membuka, memberi, dan mengikhlaskan. Pikiran yang kerap berkelana tanpa arah, diseru untuk kembali dalam sujud dan perenungan. Seraya memohon rahmat dan ampunan.
Bulan suci adalah lembaran baru yang terbentang di hadapan kita, siap diisi dengan tinta kesadaran dan pena keikhlasan. Di dalamnya, ada ruang untuk merangkai kalimat-kalimat taubat. Menuliskan doa-doa yang telah lama terlupa, dan menggoreskan harapan-harapan baru dalam cahaya pengampunan.
Rumi pernah berkata, "Setiap fajar membawa cahaya baru, dan setiap cahaya baru adalah kesempatan untuk memulai kembali." Memulai mengisi lembaran baru dengan amal dan cahaya kebaikan. Dengan sikap dan tindakan yang membawa kemanfaatan.
Imam Junaid al-Baghdadi, menggambarkan perjalanan ruhani (dalam bulan suci) bagai sebuah perjalanan menuju hakikat cinta. Ia berkata, "Tasawuf bukanlah sekadar kata-kata atau teori, tetapi sebuah keadaan di mana ruh benar-benar berserah kepada-Nya." Dalam konteks bulan suci, perjalanan ini adalah kesempatan untuk membebaskan diri dari segala kecenderungan duniawi.
Bulan suci adalah ibarat cermin besar yang menampilkan siapa diri kita sebenarnya. Di balik ritual ibadah yang dilakukan, tersembunyi pesan untuk merenungi setiap langkah yang telah ditempuh. Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik?
Ataukah masih terperangkap dalam jerat hawa nafsu yang membutakan? Imam Al-Ghazali pernah menasihati bahwa nafsu adalah tirai yang menghalangi manusia dari cahaya hakikat. Oleh sebab itu, bulan suci adalah waktu terbaik untuk menyingkap tirai itu, menundukkan nafsu, dan menyucikan hati.
Artikel Terkait
GP Ansor Cianjur Bangun Kekuatan Ekonomi Kader Melalui Pengembangan Agro dan UMKM
Hati Sebening Embun
Universitas Nurul Jadid Terpilih Sebagai Tuan Rumah Kongres BEM PTNU Se-Nusantara ke-VIII
Sanlat Ramadhan DPK BKPRMI Takokak Resmi dimulai
Kecelakaan Timpa Banser Cianjur: Kaki Diamputasi, Butuh Bantuan!
Mutiara Pagi: Suara Sahur (Bagian 1784)
Kembali ke Cahaya Ilahi
Melanjutkan Tafsir Ayat-ayat Hukum Dalam Al-Qur'an
Operasi Pasar Pangan PT Pupuk Indonesia
Bahayanya TNI Masuk Sipil, Pengamat: TNI Tidak Mengenal Demokrasi