Oleh Mohamad Sinal
Di antara putaran waktu yang abadi adalah musim semi di bulan suci. Tak terikat oleh cuaca, di dalamnya penuh dengan makna. Ia adalah musim, di mana hati bermekaran, menyelimuti jiwa-jiwa yang mendamba pencerahan.
Tak ada cerita daun kering, tak ada langit yang sedang muram. Sebab di bulan suci, yang layu kembali bersemi. Yang kering hidup kembali. Yang hilang ditemukan kembali.
Bulan suci adalah embusan angin lembut, yang menyapa relung terdalam nurani. Membawa serta sejumlah bisikan, tentang harapan dan pertobatan. Ia datang seperti cahaya yang perlahan mengusir gelap.
Ia seperti gerimis, yang menyegarkan tanah yang sedang dahaga. Seperti semilir angin, yang menyejukkan jiwa yang sedang gunda-gulana. Yang telah lama tertidur dalam hiruk-pikuk dan kesibukan dunia.
Kini mulai terbangun dalam suasana dan kesadaran baru. Menangis dalam keheningan, lalu tertawa dalam kebahagiaan. Seperti Jalaluddin Rumi lukiskan pada puisinya berikut ini: "Ketika jiwa mulai terbangun, ia akan menangis dalam keheningan. Ketika ia telah benar-benar terjaga, ia akan tertawa dalam kebahagiaan."
Kita pun menyambut bulan suci dengan rindu yang tak tertahan. Di dalamnya, setiap doa yang melangit adalah kuncup yang hendak mekar. Laksana pohon-pohon yang menunggu musim semi untuk bertunas kembali.
Setiap amal adalah akar yang menguat. Setiap maaf adalah angin sejuk yang membelai kelopak jiwa. Bulan ini adalah anugerah, mengubah kegelisahan menjadi ketenangan. Menghapus dendam dengan kasih sayang, seperti menyulap gersang dengan kesuburan.
Dalam keheningan malam, bintang-bintang seperti lebih terang. Alam pun menjadi terang benderang. Seakan-akan hendak mengiringi lantunan ayat-ayat suci yang mengalir dari bibir yang penuh doa.
Di setiap sujud, ada air mata yang mengalir. Bukan karena kesedihan, melainkan karena kesadaran bahwa kita adalah tamu dalam kehidupan yang fana ini. Bisakah kita bertemu dengan segala keindahan, pemilik jagat raya ini?
Sebagaimana Rabia Al-Adawiyah berseru, "Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaan kepada-Mu, maka janganlah Engkau halangi aku dari keindahan-Mu."
Seperti taman yang perlahan bersemi, setiap hati yang tersentuh oleh bulan suci mengalami transformasi. Jika sebelumnya, terjebak dalam hiruk-pikuk duniawi, kini belajar untuk memahami. Belajar memperlambat langkah untuk melihat kehidupan dengan mata yang lebih terbuka.
Menyadari bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari lapar dan dahaga. Puasa juga menumbuhkan empati kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Mengajarkan kita bahwa menahan amarah lebih mulia daripada melampiaskannya.
Ibn Arabi pernah mengatakan, "Penyucian hati lebih sulit daripada penyucian tubuh, sebab hati adalah cermin yang memantulkan cahaya Ilahi." Sedangkan memaafkan adalah bentuk cinta tertinggi. Sementara memberi adalah cara terbaik untuk dapat menerima kembali.
Musim semi di bulan suci adalah waktu yang sangat tepat untuk menanam kebaikan. Dengan harapan, ia akan terus tumbuh setelah bulan ini berlalu. Ketika hati layu kembali merekah, ketika harapan redup kembali menyala, dan setiap langkah yang kita tempuh berjalan menuju cahaya.
Artikel Terkait
Oase Keseimbangan di Bulan Suci
Launching Studi Pasaran, Cara PAC GP Ansor Karangtengah Cianjur Rawat Kesehatan Mental
PAC Ansor dan RA Karangtengah Cianjur Bersinergi Cetak Generasi Nasionalis-Agamis Melalui Pesantren Kilat
Tips Membuat Gorengan Enak untuk Berbuka Puasa yang Crispy dan Lezat
Mutiara Pagi: Dahaga yang Indah (Bagian 1789)
Taubat Ruhani di Bulan Suci
Tagar “Kabur Aja Dulu” dan Keangkuhan Para Elit
Panen di Saat Hujan, Petani Menanti Sinar Matahari
Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Mutiara Pagi: Embun Doa di Bulan Suci (Bagian 1790)