Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 06

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 5 Februari 2025 | 08:05 WIB
Ilustrasi Isra Miraj 2025. Ini link poster Isra Miraj 2025 1446 H (Freepik.com/freepik)
Ilustrasi Isra Miraj 2025. Ini link poster Isra Miraj 2025 1446 H (Freepik.com/freepik)


Imam Shamsi Ali

Setelah Rasulullah SAW menikmati susu segar itu, Jibril Kemudian memberitahu beliau jika langit telah dibuka dan mereka harus bersiap untuk melakukan perjalanan vertikal yang disebut Mi’raj. Walaupun dalam berbagai cerita disebutkan jika Rasulullah SAW melakukan Mi’raj dengan mengendarai Buraq yang disebutkan terdahulu. Namun kenyataannya dalam banyak riwayat disebutkan beliau tidak memakai Buraq dalam perjalanan ke atas itu. Beliau diangkat oleh Jibril dengan tangannya. Sementara Buraq itu tetap terikat di tempat semula.

Perjalan Mi’raj itupun dimulai. Menurut riwayat-riwayat yang ada, pada setiap langit itu ada penjaganya (haaris/guard) dari kalangan malaikat. Ketika sampai di langit pertama sang penjaga langit bertanya: “siapa gerangan?”. Jibril menjawab: “ini Jibril”. Sang penjaga bertanya: “siapa bersamamu?”. Jibril menjawab: “bersama saya Muhammad Rasulullah”.

Dialog seperti ini terjadi di setiap langit yang akan dilaluinya. Dan ini memberikan pelajaran penting bagi umat bahwa dalam melakukan tugas dan tanggung jawab diperlukan profesionalitas. Jibril adalah malaikat teragung di antara semua malaikat. Beliau tentu punya hak dan mampu untuk akses ke semua tingkatan langit. Tapi beliau tetap menghormati para malaikat yang memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk menjaga setiap langit yang akan dilaluinya.

Dalam kebiasaan sebagian orang sikap dan perlakukan keseharian seringkali tidak mempertimbangkan profesionalitas. Hanya karena atasan di sebuah kantor lalu tidak lagi menghiraukan lagi otoritas bawahan, bahkan penjaga pintu sekalipun. Tendensi tidak menghiraukan ini seringkali adalah bentuk keangkuhan kekuasaan itu. Runyamnya lagi kalau sikap itu berimbas kepada tendensi menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Di sinilah korupsi rentang terjadi.

Kembali ke dialog antara Jibril dan penjaga langit tadi. Mendengar bahwa Jibril dan Muhammad SAW akan menaiki langit itu penjaga langit mempersilahkan: “Selamat datang Wahai nabi yang soleh”. Jibril bersama Muhammad pun memasuki langit pertama.

Di langit pertama Rasulullah SAW bertemu dengan Bapak semua manusia, sekaligus manusia dan nabi pertama, Adam AS. Adam ternampakkan duduk dengan tenang. Beliau nampak tua dan lelah menggambarkan seorang kakek. Jibril mengenalkan Rasulullah kepada Adam lalu mengarahkan Rasulullah untuk memberi salam. Rasulullah SAW pun memberikan salam. Adam AS merespon: “ahlan bi an-nabi wa al-ibni as-solih” (Selamat datang kepada nabi dan anak yang saleh).

Tidak disebutkan jika ada pembicaraan khusus yang terjadi antara Adam AS dan Muhammad SAW. Hanya saja Rasulullah menyaksikan sesuatu dari Adam yang menjadikan beliau bertanya kepada Jibril. Menurut riwayat bahwa Adam itu beberapa kali menengok ke arah kanan dan ke arah kirinya. Jika menengok ke arah kanan beliau tersenyum. Tapi jika menengok ke arah kiri beliau nampak menangis. Melihat itu Rasulullah bertanya kepada Jibril apa gerangan yang terjadi. Jibril menjawab bahwa ketika Adam menengok ke kanan beliau melihat semua anak cucunya yang ditakdirkan akan masuk syurga. Maka beliau pun tersenyum. Tapi ketika menengok ke arah kiri beliau melihat anak cucunya yang ditakdirkan akan masuk ke dalam neraka. Maka beliau pun menangis.

Sungguh cerita ini memberikan pelajaran yang maha penting bagi semua, terkhusus para orang tua. Adam mengajarkan kepada kita bahwa hal yang paling menjadi perhatian beliau sebagai ayah dari semua manusia adalah keinginan beliau melihat semua anak cucunya ada dalam syurga. Maka beliau tersenyum ketika melihat anak cucunya para calon penghuni syurga. Sebaliknya beliau sangat sedih bahkan menangis di saat melihat anak cucunya para calon penghuni neraka.

Sebagai orang tua, adakah perasaan itu pada kita? Bagaimana kita seharusnya senang dan bahagia jika kita masih melihat sikap dan prilaku anak-anak kita yang menggambarkan sikap dan prilaku penghuni syurga. Sebaliknya kira seharusnya memiliki kekhawatiran dan rasa sedih melihat sikap dan prilaku anak-anak kita yang semakin menggambarkan sikap dan prilaku penghuni neraka.

Mungkin kita tidak bisa melihat secara pasti sebagaimana Adam melihat secara pasti dengan pandangan ruhiyahnya. Tapi sikap dan prilaku kasat anak-anak kita menjadi pengingat untuk kita semua untuk membangun perhatian itu. Senang dan bahagia dengan keislaman yang baik dari anak-anak kita. Sedih dan khawatir dengan realita anak-anak kita yang semakin jauh dari agama.

Perjalanan ke atas pun berlanjut ke langit kedua. Di sinilah beliau bertemu dua nabi yang satu zaman. Yaitu nabi Isa dan nabi AS. Keduanya menyambut Muhammad dengan sambutan: “ahlan bi al-akh wa an an-nabi as-soleh” (selamat saudaraku dan nabi yang soleh).

Perjalanan lanjut ke langit ketiga dan bertemu dengan nabi Yusuf AS. Beliau disambut persis sama dengan penyambutan nabi Yahya dan Isa: “Selamat datang saudaraku dan nabi yang soleh”. Hanya saja dalam riwayat Rasulullah menyampaikan bahwa beliau melihat nabi Yusuf itu sangat tampan, seolah mengumpulkan setengah ketampanan dari seluruh manusia.

Perjalanan berlanjut ke langit keempat dan di sana ketemu dengan nabi Idris. Beliau disambut dengan sambutan yang sama: “Selamat datang Wahai saudaraku dan nabi yang soleh”.

Lalu menaiki langit kelima ketemu dengan nabi Harun, dan lanjut ke langit keenam dan di sana ketemu dengan nabi Musa AS. Kedua nabi ini juga menyambut dengan sambutan yang sama: “Selamat datang wahai saudaraku dan nabi yang soleh”.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Racism is America's Original Sin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X