Oleh: Agung Wibawanto
Sedangkan jalur politik yang tidak teratasi melalui pilkada, Jokowi harus punya kendaraan politik yang bisa ia gunakan dalam gerakan politik. Apakah Jokowi mau PSI atau PAN atau Nasdem? Jelas tidak. Itu partai kecil. Jokowi ingin menguasai partai yang memiliki konstituen besar, yakni PDIP sebagai target utama. Namun karena dosa dan kesalahan Jokowi sendiri menghianati PDIP, membuat jalannya jadi berat.
Hubungan dengan Megawati sebagai Ketum PDIP memburuk dan ia bersama anak dan menantunya dipecat dari PDIP. Dalam tradisi PDIP, tidak ada ceritanya 'orang luar' atau bukan anggota partai bisa menjadi Ketum. Untuk itu Jokowi yang kini menggelandang, berupaya melakukan bergaining kepada Megawati. Ia butuh bantuan tokoh-tokoh tertentu seperti Prabowo dan Sultan HB X.
Meski kedua tokoh tersebut berhasil ditemui Jokowi, tapi tampaknya belum menunjukkan progres yang baik. Sultan HB X sebagai pihak yang ditemui terakhir telah menunjukkan gelagat dan gaya khas Raja Jawa yang sesungguhnya. Beliau hanya menerapkan model basa-basi kepada Jokowi. Iya iya tapi tidak. Sultan sudah kenyang dengan rekayasa politik semacam itu yang bergerak di belakang layar.
Sepertinya, menurut sumber, tidak ada pula imbalan yang sepadan yang diberikan Jokowi kepada Sultan. Jadi, Sultan justru merasa tidak ada beban budi apapun kepada Jokowi. Ia bisa saja memposisikan diri di luar kepentingan antara Jokowi dengan Megawati. Sultan juga harus menjaga image dirinya sebagai Raja yang tidak bisa diatur-atur begitu saja oleh rakyat biasa seperti Jokowi.
Lalu bagaimana dengan Prabowo? Setali tiga uang, Prabowo pun tampaknya menghindar. Jika diperhatikan kini Prabowo justru mulai berani 'menentang' Jokowi dengan meminta KSAL untuk membongkar pagar laut yang dibuat sebagai rencana pengembangan PIK. Ini sesungguhnya dilema bagi Prabowo tapi ia harus mengambil sikap dan posisi segera.
Prabowo tidak ingin di masa jabatannya yang masih seumur jagung justru jatuh citranya karena perkara pagar laut. Ia meminta jajarannya untuk menyelesaikan pembongkaran pagar laut, namun itu pun belum secara tegas. Prabowo belum memberikan komentarnya di depan publik soal kasus itu. Begitupun menteri perumahan Maruarar Sirait yang dianggap dekat dengan cukong Aguan, bungkam.
Menteri Bahlil ataupun juga LB Panjaitan tidak bisa berbuat banyak. Apalagi para Ketum partai di koalisi Pemerintah semua akan satu komando di bawah arahan Prabowo sebagai presiden. Tidak lagi melihat Jokowi. Siapa kini yang akan membantu Jokowi? Anak-anaknya sendiri dianggap masih belum bisa membuat gebrakan yang bisa mengangkat citra Jokowi.
Malah mendapat banyak masalah yang dibuat sendiri oleh keluarganya. Gibran dan Kaesang juga Bobby tampak seperti menguap. Tidak hanya bentuk fisik juga di media sosial. Termasuk ibu Suri Iriana dan Paman Anwar tidak ada terdengar upayanya membantu Jokowi. Tinggallah kini Jokowi berjalan sendiri kesana-sini. Parcok lumayan masih mau membantu memberinya fasilitas pengamanan.
Untuk menjaga citranya agar tidak turut menguap, ia rela blusukan lagi ke daerah-daerah. Hal ini semata untuk mengangkat kembali citra baik dirinya yang kini semakin memudar. Akankah ia bisa mengembalikan kepercayaan publik, atau justru semakin terseok-seok mengharap belas kasih dari orang-orang yang dulunya sudah dibantu? Waktu yang akan menjawabnya.
Selesai.
Artikel Terkait
Ketua FK3I Pusat Kritisi Ide Prabowo Perihal Program Pengrusakan Hutan Seluas 20 Juta Ha
Ketika Diri Menjadi Tuhan Kecil di Dunia yang Luas
Nasab Nasib dan Habib
Terowongan Ijo Kebumen Jawa Tengah
Mutiara Pagi: Dengan Cinta (Bagian 1745)
HIMA HKI Resmi Gelar Raker: Rancang Program Unggulan untuk Masa Depan
Mutiara Pagi: Sebuah Ironi (Bagian 1746)
STAI Al-Azhary Cianjur Gelar PMB, Hadirkan Pameran Seni dan PKPA di CFD
Sidang PPL Kepramukaan Racana STAI Al-Azhary Cianjur, Bukti Nyata Pengabdian
Interfaith Dialogue and the Middle East Conflict