Journalnusantara.com, Kebumen - Pada tahun 1884, Staaspoorwegen mulai membangun jalur kereta Api rute Cilacap-Yogyakarta.
Dalam pekerjaan tersebut, Staaspoorwegen juga membuat sebuah terowongan yang menembus bukit Ijo yang ada di Rowokele Kebumen, berdekatan dengan perbatasan Karesidenan Bagelen dan Banyumas.
Di sana terdapat perbukitan yang medannya tidak rata cukup terjal untuk dilalui jalur kereta sehingga jalur kereta yang dibangun bakal lebih banyak kelokan.
Oleh karena itu, lebih masuk akal untuk membuat sebuah terowongan sepanjang 579,5 m dan jika tidak dibangun terowongan, maka rel yang akan dibangun akan memanjang lebih dari 35 km.
Staaspoorwegen kemudian menugaskan insinyur tambang, R. Fenema untuk menyelidiki formasi geologi di sana.
Penyelidikan geologis menjadi salah satu persiapan yang penting dalam proses Pembangunan terowongan agar bisa diketahui metode dan teknis penggalian yang tepat.
Terowongan digali dari dua sisi, dari sisi timur dimulai pada 24 Mei 1885 dan dari sisi barat dimulai pada 27 Juni 1885.
Bukit Ijo akhirnya berhasil ditembus dengan terowongan pada 8 Mei 1886. Biaya pembuatannya menghabiskan biaya sebesar 202.650 gulden.
Setahun berikutnya, jalur kereta Yogyakarta-Cilacap resmi dibuka. Pada tahun 2020, dibangun terowongan baru di utara terowongan lama yang mampu menampung dua jalur sekaligus dan sejak saat itu, terowongan Ijo lama sudah tidak digunakan lagi.
Sumber :
Koninklijk Instituut van Ingenieur Afdeeling Ned. Indie 1888-1889
Artikel Terkait
Brigade Mahasiswa Desak Desa Gobang Transparan dalam Anggaran dan Program Samisade
Jaga-jaga Perihal Beras
Bansos Skala Mini
Subang Larang, Istri Prabu Siliwangi yang Dibuang
Mutiara Pagi: Dunia Mendatangi (Bagian 1744)
Menyongsong Kader Unggul: PK PMII STAI Al-Azhary Cianjur Laksanakan Kajian Pra-PKD
Keterbatasan Fasilitas Publik di Cianjur
Mentalitas, Loyalitas, Militansi: Pelatihan Dasar JABAL yang Menginspirasi
Ketua FK3I Pusat Kritisi Ide Prabowo Perihal Program Pengrusakan Hutan Seluas 20 Juta Ha
Nasab Nasib dan Habib