Oleh: Bahaking Rama
Selamat Hari Jadi (Hari Amal Bakti) ke 79 Kementerian Agama Republik Indonesia, tanggal 3 Januari 2025.
“Ikhlas Beramal” merupakan somboyan Kemeterian Agama RI. Makna kedua kata tersebut adalah perbuatan tulus yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bisa juga bermakna niat tulus dan ikhlas para insan kementerian agama dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam hal Ikhlas Beramal. Leluhur kita menggambarkan dalam Kelong:
Taua punna kusiang, / taua pun kusia
Suruga nakella-kella,/ surug nekl ekl
Mingka inakke, / mik ainek
Pammasenamo batara. / pmesnmo btr .
Arti bebasnya. Ada orang yang beramal ibadah, mengharap imbalan pahala surga, tetapi saya beramal, sepenuhnya ikhlas menyerahkan kepada kehendak dan keredaan Allah swt.
Kelong di atas memberi makna, bahwa ada orang berbuat baik atau beribadah (mahdhah maupun ghairu mahdhah) karena mengharapkan suatu imbalan tertentu (surga). Tetapi ada juga orang berbuat baik atau beribadah dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan tertentu. Ia hanya menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak dan keredaan Allah swt.
The founding fathers.
Bapak para pendiri bangsa Indonesia, ikhlas mengabdikan diri berjuang tanpa pamrih melawan penjajah untuk Indonesia merdeka. Mereka ikhlas mengorbankan perasaannya, mengorbankan waktunya, tempat tinggalnya, hartanya, air matanya, darahnya, bahkan nyawanya sekalipun, demi kemerdekaan bangsanya dan kemajuan generasi, anak-cucunya.
Ulama para pendidik sejati.
Pada awal penyebaran Islam, Para ulama membuka pengajian di rumah atau di tempat lain, ikhlas mengajarkan ilmunya tanpa mengharap imbalan material. Ikhlas hanya mengharap reda Allah, semoga ilmu yang diajarkan kepada para satri (jamaah) berberkah dan bernilai ibadah disisi-Nya.
Dari keikhlasan para ulama mengajarkan ilmunya dan keikhlasan para santri menerima ilmu, maka Allah memberikan berkahnya dengan berkembangnya ilmu para ulama melalui lembaga pendidikan pesantren dan madrasah.
Peran Kementerian Agama
Kementerian Agama Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 3 Januari 1946, sangat dibutuhkan perannya oleh umat, untuk mengelola urusan keagamaan, terurama urusan pendidikan.
Kalau lembaga pendidikan sebelum kemerdekaan dikelola suasta (individu atau lembaga sosial), maka setelah kemerdekaan, Negara wajib hadir untuk mengambil peran penting di dalam mengelola urusan keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan.
Sudah 79 tahun Kementerian Agama memainkan peran penting dan strategis menangani kehidupan beragama dan lembaga pendidikan keagamaan. Tentu kita semua bangsa Indonesia patut berterimakasih kepada lembaga kementerian agama dan para insan-insan kementerian agama atas jasa-jasanya yang IKHLAS BERAMAL membangun kemajuan bangsa dibidang keagamaan.
Wujudkanlah tujuan pendidikan nasional yang sarat dengan nilai keagamaan (keislaman), yaitu “…berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UURI No. 20 tahun 2003, pasal 3) Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Allah berfirman “Padahal mereka tidak disuruh kecuali sepaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat, dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah, 98 :5)
Selamat Hari Amal Bakti ke 79 Kementerian Agama RI, tanggal 3 Januari 2025, semoga Kemenag semakin maju dan tetap ikhlas beramal. Tetap dan teruslah mengabdi, setia hingga akhir sampai tiba waktunya kembali kepada-Nya.
Artikel Terkait
Ruang Publik dan Ruang Politik
Mutiara Pagi: Hidup Harus Menari (Bagian 1728)
Awal 2025 dengan Harapan yang Seperti Dulu
Mengapa Kita Terus Mencari Kebahagiaan di Tempat Salah?
Putaran Waktu
Raden Aria Wangsa Goparana
Diversifikasi Pangan
Mutiara Pagi: Keunggulan Manusia (Bagian 1729)
Polres Cianjur Mendapatkan Pujian Wakil Rakyat atas Pengamanan Nataru
Bioskop Sinar, Lokasi Menonton Favorit di Cianjur Era 1990an