Oleh: Rudi Ahmad Suryadi
Dalam tradisi Islam, sufi adalah mereka yang mengejar perjalanan spiritual yang mendalam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pemurnian hati, jiwa, dan pikiran. Namun, ungkapan "Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi" menggambarkan sebuah filosofi mendalam yang menekankan bahwa hakikat seorang sufi tidak terletak pada identitas eksternal atau gelar, melainkan dalam esensi perjalanan spiritualnya.
Pertanyaan yang muncul dari kalimat ini ialah: Mengapa seorang sufi yang sejati tidak bertanya tentang siapa dirinya? Bagaimana makna dari ungkapan ini dalam konteks perjalanan spiritual seorang sufi?
Tulisan ini berusaha menguraikan makna dari ungkapan tersebut dengan pandangan dua ahli tentang sufi dan kesufian, yaitu Al-Ghazali dan Ibn Arabi, dua tokoh besar dalam tradisi sufi yang memberikan pandangan mendalam tentang hakikat sufisme.
Ungkapan "Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi" dapat dipahami dalam dua dimensi utama. Pertama, ungkapan ini mengindikasikan bahwa menjadi seorang sufi adalah tentang pengalaman batin yang tidak dapat diukur oleh parameter duniawi. Menjadi sufi berarti melakukan perjalanan untuk memahami keberadaan dan hubungan langsung dengan Tuhan, bukan sekadar memahami identitas atau posisi di hadapan orang lain. Seorang sufi yang telah menempuh perjalanan spiritual tidak lagi tertarik dengan pertanyaan tentang siapa sufi, sebab baginya yang penting adalah pengamalan dan pengalaman hubungan dengan Allah secara pribadi.
Kedua, ungkapan ini menekankan bahwa seorang sufi sejati menghindari klaim tentang status atau identitas dirinya sebagai seorang sufi. Bagi mereka, klaim semacam itu justru bisa menjauhkan seseorang dari esensi ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah. Dalam pandangan sufi, semakin seseorang mendekat kepada Tuhan, semakin ia melepaskan diri dari atribut atau identitas duniawi, termasuk klaim sebagai seorang sufi.
Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh sufi terkemuka, dalam karyanya Ihya 'Ulumuddin, menekankan bahwa hakikat seorang sufi terletak pada pemurnian hati dan hubungan yang tulus dengan Allah. Al-Ghazali mengajarkan bahwa tujuan utama dari perjalanan sufi adalah mencapai maqam atau tingkatan spiritual yang tinggi, yaitu ma'rifatullah, atau mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Menurut Al-Ghazali, seorang sufi adalah orang yang mampu melepaskan dirinya dari keinginan duniawi, termasuk keinginan untuk dikenal atau dihormati sebagai seorang sufi.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebijaksanaan seorang sufi terletak pada kesadarannya akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya.
Dalam pandangannya, seorang sufi tidak akan mempertanyakan atau mendefinisikan dirinya sebagai sufi karena ia sudah berada dalam keadaan “tenggelam” (fana’) dalam Tuhan. Baginya, mempertanyakan identitas adalah sebuah bentuk ego yang berlawanan dengan tujuan utama sufisme. Maka, menurut Al-Ghazali, seorang sufi yang sejati adalah mereka yang menyadari bahwa identitas "sufi" bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan atau dibanggakan, melainkan hanya sebuah medium untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tokoh sufi lainnya, Ibn Arabi, yang dikenal sebagai “Syaikh al-Akbar” atau “Guru Agung”, memiliki pandangan unik tentang kesufian yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang ungkapan ini. Dalam karyanya, Futuhat al-Makkiyah, Ibn Arabi membahas tentang konsep wahdat al-wujud atau "kesatuan wujud." Menurutnya, seluruh alam semesta ini adalah manifestasi dari wujud Tuhan, dan perjalanan seorang sufi adalah perjalanan untuk menyadari kesatuan ini dalam dirinya.
Bagi Ibn Arabi, seorang sufi tidak lagi memikirkan atau mendefinisikan dirinya setelah mencapai kesadaran penuh akan kesatuan Tuhan. Ketika seorang sufi memahami bahwa seluruh alam ini adalah perwujudan dari Tuhan, maka ia tidak lagi berfokus pada identitas atau atribut. Dalam pandangan Ibn Arabi, seorang sufi yang bertanya tentang dirinya sebagai sufi justru masih terikat oleh dualisme dan belum mencapai kesadaran penuh tentang kesatuan wujud.
Ibn Arabi juga mengajarkan bahwa konsep sufi harus dilihat sebagai keadaan jiwa, bukan gelar. Menurutnya, seorang sufi adalah mereka yang mampu memandang segala sesuatu sebagai perwujudan dari cinta Tuhan. Dalam keadaan ini, seorang sufi tidak memerlukan pengakuan atau klaim apa pun karena kesadaran tentang Tuhan menjadi fokus utama yang menghilangkan semua bentuk ego dan identitas pribadi.
Ungkapan "Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi" menggambarkan esensi spiritual yang mendalam dari jalan sufisme, yakni bahwa seorang sufi yang sejati tidak lagi mencari pengakuan atau identitas dalam perjalanan spiritualnya. Dengan pandangan dari Al-Ghazali dan Ibn Arabi, kita dapat melihat bahwa hakikat seorang sufi terletak pada kesadaran tentang Tuhan yang mendalam dan pencapaian kondisi batiniah yang murni.
Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa menjadi seorang sufi bukanlah soal identitas, melainkan tentang kondisi spiritual yang harus dicapai melalui perjalanan batin yang intens dan penuh keikhlasan. Dengan demikian, seorang sufi yang sejati tidak lagi mempertanyakan siapa dirinya karena ia telah tenggelam dalam cinta dan kesadaran akan Tuhan.
Ungkapan ini mengingatkan bahwa dalam perjalanan menuju Tuhan, yang terpenting bukanlah label atau pengakuan, melainkan sejauh mana seseoramg mampu menggapai kedekatan dengan-Nya. Seorang sufi yang tidak bertanya siapa sufi adalah mereka yang telah memahami hakikat cinta dan kepasrahan, yang membawa mereka pada kedamaian batin sejati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dengan Kata (Bagian 1658)
Ikhtiar Memperkuat MWCNU Campakamulya Cianjur Melalui Gelaran Lailatul Ijtima
Perempuan Cianjur Bersuara Sampaikan Tujuh Tuntutan Terhadap Tiga Kandidat Calon Bupati
Mutiara Pagi: Deklarasi Balfour (Bagian 1659)
GAHMI Pertanyakan Netralitas ASN: Jangan Jadi Dalang Kekisruhan dan Merusak Citra Demokrasi
Tingkatkan IPM, BEM STAI Al-Azhary Cianjur Gelar Seminar Tridharma Perguruan Tinggi
Hikmah di Balik Pengakuan dan Taubat
Janganlah Kau Risaukan Akan Rezekimu
Para Sahabat Shaleh Saling Memberi Syafa’at di Hari Kiamat
Mutiara Pagi: Seperti Terusan Panama (Bagian 1670)