Kesimpulannya untuk seseorang menerima kebenaran (al-haq) setelah terjadi hidayah al-irsyad harus terjadi hidayah at-taufiq. Dan hidayah at-taufiq ini secara mutlak ada di tangan Allah SWT. Sehebat apapun da’wah yang kita lakukan. Sepintar apapun seorang Ulama. Dan secanggih apapun metode da’wah kita. Tanpa at-taufiq dari Allah da’wah itu hanya menjadi bahan informasi semata.
Kenyataan ini perlu disadari khususnya untuk para pelaku da’wah agar di satu sisi tidak over confidence (terlalu percaya diri) bisa memberikan hidayah. Dan di sisi lain tidak berkecil hati jika ajakannya (da’wahnya) tidak mendapatkan respon yang positif. Rasulullah sendiri pernah mengalami ini. Ada masa-masa di mana beliau merasa resah, sumpek (yadhiiku shodruk) dan bahkan kecewa dengan respon yang diterimanya dari kaum kuffar.
Percayalah, Allah memberikan hidayahNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Di tanganNya segala kekuasaan dan Dia memperlakukan kekuasaanNya sesuai iradah dan hikmah yang Dia miliki. Yakin saja!
Bersambung….!
Bellevue Hospital, 26 Agustus 2024
* NYCHHC Chaplain at Bellevue Hospital
Artikel Terkait
Keutamaan Shalat Jama'ah Empat Puluh Hari Bersama Imam
Nepostisme di Pemerintahan, Pelanggaran Amanah Kelas Berat
Mengenal Hidayah dan Tingkatannya - 03
Semarak Santri Manba'ul Huda Rayakan Kemerdekaan HUT Ke-79 RI
Peringatan Keras dari Yogjakarta
Hari Ini Tanggal Keramat
Mutiara Pagi: Yang Maha Esa (Bagian 1595)
Malam Puncak HUT RI ke 79 di Desa Ciguha hingga Pagelaran Panggung Rakyat
Mutiara Pagi: Yang Maha Tunggal (Bagian 1596)
Ikhtiar Melawan Kejahatan Korupsi