Belajar dari Amerika dan China dalam Membangun Jalan Bebas Hambatan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 17 Juni 2024 | 07:33 WIB
Jalan tol Jambi bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi sebuah langkah menuju masa depan yang lebih cerah untuk seluruh warga. Jalan Tol Betung - Tempino - Jambi yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan panjang keseluruhan yakni 169,9 km.
Jalan tol Jambi bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi sebuah langkah menuju masa depan yang lebih cerah untuk seluruh warga. Jalan Tol Betung - Tempino - Jambi yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan panjang keseluruhan yakni 169,9 km.

Dwight Eisenhower, presiden AS. Tahun 1956 membuat keputusan fenomenal, yang mungkin setelah itu tidak ada presiden AS yang mampu lakukan.

Apa itu? Disaat krisis ekonomi melanda AS, tahun 1956 dia membuat keputusan membangun jalan antar negara bagian sepanjang 45.000 Km. Ini bukan sekedar jalan negara tapi jalan raya bebas hambatan. Itu sama dengan panjang dari Sabang- Marauke. Darimana dia dapat uang? Dari penerbintan Obligasi.

Karena saat itu AS belum begitu kaya. Hasilnya terbukti benar. Ekonomi AS cepat keluar dari krisis. Dan sejak itu pertumbuhan ekonomi meluas merata di setiap negara bagian. AS lead dalam pembangunan ekonomi dunia.

China juga sama. Ketika usai revolusi kebudayaan. Tahun 1980, Deng pergi melawat ke AS. Dia ingin lihat dari dekat bagaimana Ekonomi AS, bisa melesat cepat. Deng tahu, " oh ternyata, AS punya jalan antar negara bagian yang mulus. " Deng tiru itu.

Deng menerapkan kebijakan pembangunan infrastruktur ekonomi secara luas. China memang tidak menarik utang terlalu besar untuk membiayai program stimulus itu.

China memotong dana sosial sampai 90%. Sehingga praktis tidak ada lagi jaminan sosial terhadap rakyat. Terbukti hanya dalam waktu 10 tahun ekonomi China melesat sebagai negara produsen.

AS dan China contoh dua negara yang menerapkan politik berbeda namun menjalankan prinsip ekonomi yang sama. Apa itu ? kekuatan pasar.

China paska revolusi kebudayaan membangun kemandirian rakyat lewat penyediaan infrastruktur dan kebijakan tarif untuk membantu industri hilir lewat subsidi industri hulu.

AS juga sama. Memberikan insentif kepada industri hulu dan menjamin biaya logistik efisien. Sehingga daya saing AS dan China tinggi.

Saya tidak akan membahas lebih jauh tetang derivat kebijakan ekonomi AS dan China yang pro pasar. Saya hanya ingin memberikan indikasi bahwa pembangunan infrastruktur ekonomi itu adalah sangat fital kalau ingin kemandirian rakyat terjadi.

Mengapa? Roda ekonomi hanya dapat berputar secara berkeadian, apabila distribusi barang dan jasa lancar. Dan itu butuh insfrastrktur ekonomi berupa bandara, pelabuhan, jalan dll.

Apakah Eisenhower mudah membuat kebijakan itu? tidak. Tentu dapat tantangan luar biasa. Namun sebagai mantan panglima perang dunia kedua, membawa AS unggul. Dia mampu melewati tantangan politik itu.

Dia malah membuat UU bebas hambatan. Agar memastikan walau dia tidak lagi jadi presiden, presiden berikut punya kewajiban konstitusi menyelesaikan tugas itu.

China, Deng juga punya prinsip sama. Tidak mudah bagi Deng untuk menjadikan agendanya diterima elite partai. Namun akhirnya sebelum dia meninggal, China sudah punya UU jalan bebas hambatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X