Ibrahim AS dan Transformasi Kehidupan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 14 Juni 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi Nabi Ibrahim saat Menerima Wahyu dari Allah Untuk Mengorbakan Putranya Nabi Ismail
Ilustrasi Nabi Ibrahim saat Menerima Wahyu dari Allah Untuk Mengorbakan Putranya Nabi Ismail

Jika saja kita tarik pada konteks kehidupan kita sebagai Muslim di dunia Barat justeru menjadi kekhawatiran yang sangat. Jangan-jangan kita justeru berbalik. Jika Ibrahim AS terlahir dari keluarga yang musyrik lalu bertransformasi ke keluarga yang bertauhid dan taat, jangan-jangan anak dan generasi kita berbalik. Terlahir dari keluarga Muslim tapi tumbuh menjadi generasi yang terjatuh ke dalam penyembahan berhala-berhala. Termasuk di dalamnya berhala materialisme yang dari hari ke hari semakin menggeser posisi Tuhan dalam
Kehidupan manusia.

Ketiga, transformasi komunal dengan ketakwaan.

Transformasi ketiga yang terjadi dengan perjuangan dan pengorbanan Ibrahim (AS) adalah transformasi komunal atau kemasyarakatan. Bahkan sesungguhnya Ibrahim berhasil mewujudkan transformasi global ke seluruh penjuru semesta.

Kita mengenal dari Al-Quran yang kemudian menjadi catatan sejarah bahwa Ibrahim terlahir dalam masyarakat Musyrik di bawah seorang raja yang musyrik bernama Namrud. Semua masyarakat, termasuk ayah Ibrahim sendiri adalah musyrik. Sehingga bisa disimpulkan bahwa masyarakat di mana Ibrahim tumbuh adalah masyarakat yang berkarakter kesyirikan.

Namun melalui perjuangan dan pengorbanannya, Ibrahim berhasil melakukan transformasi komunal bahkan global. Ibrahim sendiri dikenal sebagai “Ummah” dan beliau diangkat oleh Allah menjadi “imam Lin-naas” (pemimpin manusia).

Jika saja hal ini kita tarik ke dalam konteks kehidupan kita di Dunia Barat maka seharusnya kita jadikan cambuk untuk perjuangan dan pengorbanan untuk terjadinya transformasi komunal. Pada konteks Amerika diharapkan umat Islam harus mampu melakuan transformasi komunal, merubah Amerika dari bangsa yang cenderung menyembah berhala materialisme ke bangsa yang menyembah hanya kepada Pencipta langit San bumi. Dari masyarakat yang berkarakter materialis menjadi masyarakat yang berkarakter Rabbani (ketuhanan). Dan sejatinya itulah Amerika: “one nation under God”.

Kesimpulan yang ingin kita ambil adalah bahwa perayaan Idul Adha harusnya bukan sekedar dipahami sebagai amalan ritual dengan menyembelih hewan. Tapi Idul Adha harus dipahami sebagai peristiwa yang harusnya menjadi landasan bagi terjadinya transformasi kehidupan secara menyeluruh. Bahkan sejatinya Idul Adha harus menjadi motivasi bagi umat ini untuk kembali merajut jati dirinya sabagai “Ummah wahidah” (one global nation) dalam ikatan “wihdah dan ukhuwah imaniyah.

InshaAllah Semoga!

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X