Oleh: Muhammad Sabri (Direktur Pengkajian Kebijakan PIP BPIP RI dan Guru Besar Filsafat Islam UIN Alauddin Makassar)
Ada jejak istimewa, ketika hari ini, Kamis 6 Juni 2024, merupakan "pengulangan" penanda agung kelahiran "Sang Puta Fajar, " Bung Karno 123 tahun silam, Kamis 6 Juni 1901.
Di sana, ada kisah yang mengalir: tidak sekadar penanda kelahiran personal BK, tapi terutama genealogi terbitnya sebilah gagasan, pikiran, lalu anggitan atau konsep perihal Pancasila.
Bung Karno diandaikan sebagai "Putra Sang Fajar" bukan tanpa alasan. Pertama, secara semiotik-alegoris, kehadiran "fajar" tidak saja sebagai penjejak keperiadaan dunia "terang" setelah sebelumnya semesta dikepung "gelap" (malam), tapi sekaligus penanda mekarnya "pencerahan" pikiran bagi kehidupan baru.
Kedua, "fajar" adalah lambang sebuah "kebangkitan" gerak peradaban sebagai muasal segenap bentuk "pencerahan".
Ketiga, BK diandaikan sebagai "Putra Sang Fajar" yang melambangkan pacaran cahaya dari "Timur", adalah kekuatan "perlawanan" terhadap kolonialisme dan imperialisme "Barat".
Keempat, "Barat" diletakkan sebagai wilayah "tenggelamnya" matahari yang juga simbol kolonialisme-imperialisme, sementara "Sang Fajar" meneguhkan kesadaran perihal "Timur" yang tidak hanya menghadirkan pencerahan dan dunia baru, tapi juga menghalau bahkan mengusir "senjakala" yang justru tenggelam di ufuk "barat".
Dan Endeh Bung Karno (BK) lebih senang menyebut Endeh ketimbang Ende diyakini secara ontologis sebagai "kawah candradimuka" dan akumulasi panjang berkecambahnya "embrio" Pancasila yang mengalir dalam arus sungai permenungan-permenungan BK sejak 1918-1945.
BK muda, di Surabaya (1918), sesungguhnya telah karib dengan sejumlah pemikiran "ideologi" semisal Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.
Ini lebih merupakan buah dari perjumpaan dan interaksinya dengan sejumlah pemuka pemikir ketika BK indecost di rumah "Bapak Para Pendiri Bangsa" HOS Tjokroaminoto.
Di rumah ini, BK berjumpa, berdiskusi, dan berdebat dengan Alimin dan Muso (kelak tokoh kunci PKI), Kartosuwiryo (DI/TII), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH Wahab Hasbullah (NU), dan lain-lain.
Secara embrio, ide, gagasan, dan prinsip "kebangsaan", "ketuhanan" dan "sosialisme" tumbuh mekar dalam permenungan BK di Surabaya.
Di Bandung, ketika melanjutkan kuliah di ITB, BK bertemu dan berdialektika dengan tokoh-tokoh pemuka pemikir-penggerak "kebangsaan" di antaranya "Tiga Serangkai" yang sangat brilliant: Tjipto Mangoenkoesoema, Ki Hajar Dewantara, dan Douwes Dekker.
Paham "kebangsaan" dan praktik "musyawarah" yang merupakan tabiat dasar dan teladan masyarakat Nusantara, kian matang dalam relung-relung inteleksi BK.
Artikel Terkait
Gunung Galunggung, Simpan Kekayaan Alam dan Potensi Wisata Eksotis
Potret KRI Golok 688, Armada Tempur TNI AL Berkemampuan Siluman
Review Grand Final Miss Indonesia 2024
Dugaan Korupsi di PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Geledah 7 Lokasi KPK Temukan Dokumen Transaksi
Ibu Muda Bikin Video Asusila dengan Anaknya, Lantas Ngaku ke Suami
Menciptakan Wirausaha Muda Pertanian demi Regenerasi Petani Nusantara
Apa Kabar Dana Gempa Tahap 4 di Kab. Cianjur ?, BPBD: Langsung Tanyakan Pada Kami !
9 Calon Kabupaten Baru di Jabar Masih Proses Kajian di Kemendagri, Cianjur Selatan Diantaranya
Penjual Senjata ke KKB Berhasil Ditangkap Satgas Operasi Damai Cartenz
Asisten Pelukis Bernama Artificial Intelligence Akan Melampaui Van Gogh?