Oleh: Ilham Ramadhan (Dosen STAI Al-Ittihad Cianjur)
Sudah menjadi barang tentu, manusia memiliki keterbatasan dalam berbagai kemampuannya maupun dalam segi tindakannya. Juga jelekat pada manusia tersebut bahwa tidak semua hal diwujudkan semaunya dan menjadi pijakan penentu berhasil atau tidaknya.
Apabila ditelaah berdasakan rasio akal atau kalkulatif matematis tentu banyak hal yang menjadi dasar berhasil atau gagal. Dalam tulisan ini bukan berarti mengkesampingkan atau bahkan menolak suatu hal yang mustahil oleh karena pada realitanya terdapat banyak hal yang memang tidak dapat diganggu gugat oleh karena itu adalah ketetapan yang maha kuasa, namun pada beberapa aspek yang lain probabilitas selalu ada meski banyak yang mengatakan itu mustahil untuk dilakukan.
Kematian, terlahir di Rahim siapa, jatah ataupun sisa usia misalnya, itu adalah ketetapan mutlak yang tidak bisa di lobby. Sederhananya manusia jika sudah sampai pada akhir perjalanannya berdasarkan ketetapan maka sekuat dan segigih apapun menolak tetap akan berakhir perjalananya. Tapi perlu diketahui juga bahwa dalam tindakan-tindakan yang diambil oleh manusia bisa mematahkan anggapan orang disekitarnya yang menganggap itu mustahil.
Misalnya, orang yang bertahun-tahun hidup dalam taraf kemiskinan sehingga orang disekitarnya menganggap ia akan mati dengan status kemiskinanya, atau bahkan menganggap si miskin itu mustahil untuk bisa menjadi kaya, maka probabilitas dalam anggapan kemustahilan itu berlaku.
Sebelum lebih jauh dibahas, pada bagian ini akan diperkenalkan secara bahasa apa itu mustahil dan apa itu probabilitas. Pertama mengenai mustahil, secara bahasa adalah incapable of being or of occurring yang berarti tidak mampu menjadi atau terjadi, dalam makna yang lain felt to be incapable of being done, attained, or fulfilled: insuperably difficult yang berarti dirasakan tidak mampu dilakukan, dicapai, atau dipenuhi: sangat sulit.
Kemudian probabilitas dalam kamus bahasa Indonesia adalah kemungkinan atau peluang terjadinya suatu peristiwa atau kejadian. Probabilitas dapat diukur dengan menggunakan angka atau persentase untuk menggambarkan seberapa besar kemungkinan terjadinya suatu peristiwa atau kejadian.
Tidak asing lagi didengar nama Gaius Julius Caesar dalam kisah bangsa Romawi kuno dan bahkan dimaktub dalam beberapa tulisan seperti The conquest of Gaul, Commentaries on the Civil War, De Bello Hispaniensi dan The Commentaries of Julius Caesar.
Julius Caesar dikenal dengan ambisinya yang besar dan cita-citanya yang tinggi untuk memperluas kekaisaran Romawi hingga ke ujung Dunia. Akan tetapi banyak orang disekitarnya yang skeptis juga meragukan rencananya tersebut mereka menganggap ambisi Julius Caesar sebagai hal yang mustahil dilakukan dan sangat besar konsekuensinya. Di tengah kondisi pandangan tersebut Julius Caesar mengabaikan dan tidak mengindahkan keraguan dan skeptisme tersebut.
Perlu diketahui, Julius Caesar adalah seorang jenderal yang paling masyhur dalam sejarah Romawi kuno dan ia juga dikenal sebagai salah satu diktator pada zamannya. Suatu ketika Caesar berada di Galia, ia berhadapan dengan sungai Rubicon yang menjadi batas wilayah yang sangat dilarang bagi tantara Romawi untuk menyebrang tanpa izin Senator pada kala itu. Diketahui, tindakan menyebrangi Rubicon ini dianggap sebagai pernyataan perang terhadap Republik Romawi.
Tidak sedikit yang mengingatkan Caesar mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi jika ia melaggar batas tersebut, termasuk ancaman eksekusi pada dirinya dan pasukan-pasukannya, Namun sang Jenderal mengabaikan peringatan tersebut.
Dengan tekadnya yang begitu kuat, dan keyakinan yang sangat mengakar Caesar justru berkata “Alea iacta est” yang berarti “dadu telah dilemparkan”. Sang jenderal menyebrangi Rubicon dan mengambil resiko besar untuk mencapai pada tujuannya, tindakan ini bukan hanya akan mengguncangkan Romawi tetapi juga akan mengawali perang saudara yang berkepanjangan.
Meski dengan rintangan dan tantangan yang tidak sedikit ia hadapi, sang Jenderal tidak pernah ragu ataupun menyerah, ia menghadapi pasukan-pasukan yang jauh lebih besar dan jauh lebih berpengalaman daripadanya. Tetapi ia terus maju dengan keyakinan dan strategi yang cerdik, Julius Caesar dengan sangat berani menghadapi ketidakmungkinan dan menunjukan pada khalayak banyak bahwa ketekunan dan keberanian bisa mengatasi segalanya. Ia selalu yakin bahwa tidak ada yang mustahil jika kita memiliki tekad dan keberanian yang kuat untuk menghadapinya.
Menjadi penting untuk diingat bahwa dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan dan mematahkan pandangan orang lain, selayaknya kita belajar mengabaikan pandangan negative atau keraguan diri, jangan pernah biarkan hal-hal yang mungkin dianggap mustahil oleh Sebagian orang menjadi penghalang untuk melakukan tindakan. Seperti Julius Caesar yang mengabaikan sesuatu yang dianggap mustahil bisa menjadi sosok yang berpengaruh dan mencapai prestasi yang begitu luar biasa.
Artikel Terkait
Diduga Pendukung 01 Serang Gibran Hingga Tarik Leher, Pelaku Sering Demo di MK
Tak Sabaran, Oknum POLISI Tabrak Avanza dan Pamer Senjata, Warganet: Halah Kacung !
Hak Prerogatif Presiden Terpilih Prabowo Subianto Terpimpin Jangan Pilih Menteri Lobi Lobi Rekomendasi
Sambangi Kendari, AHY Bagikan Sertifikat Tanah Wakaf dan Rumah Ibadah
Orang Bogor Berani "Lawan" Ibu Peminta yang Suka Maksa, Alhasil Kabur Terbirit-birit
Rasain...Doyan Selingkuh, Seorang Pria Berkeluarga Digerebek Teman-temannya Hingga Viral !
31 Pemuda Dilantik Jadi Pengurus Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Bandung Periode 2024-2026
Pelecehan Seksual Lagi, Pelaku 2 Pria Injak Alat Vital Korban Kemudian Diunggah di Medsos
Wali Songo Bermadzhab Syafi'i, Fakta Manuskrip Kuno Kanjeng Sunan Bonang Tahun 1595 M
Seberapa Kebal Anggota Komponen Cadangan (Komcad) Terhadap Virus Radikalisme