Wali Songo Bermadzhab Syafi'i, Fakta Manuskrip Kuno Kanjeng Sunan Bonang Tahun 1595 M

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 30 April 2024 | 08:58 WIB
Kumpulan soal esai tentang Wali Songo terbaru dan lengkap dengan jawabannya. (dok.kmnu)
Kumpulan soal esai tentang Wali Songo terbaru dan lengkap dengan jawabannya. (dok.kmnu)

Naskah Carita Lasem mencatat bahwa pada 1480 M, Sunan Bonang sempat tinggal di dalem Kadipaten Lasem bersama kakak perempuannya yaitu Nyai Gede Maloka, janda dari Pangeran Wiranegara.

Adapun tempat tinggal Sunan Bonang di Lasem tersebut adalah di bukit Watu Layar yang masuk desa Bonang, karena Sunan Bonang sempat mendirikan zawiyah untuk kepentingan khalwat dalam riyadloh tarekat.

Beda halnya menurut Raden Poejosoebroto dalam bukunya Wayang Lambang Ajaran Islam ( 1978 ), bahwa kata Bonang yang disematkan kepada Sayid Makhdum Ibrahim bin Sayid Ali Rahmatullah itu adalah kebiasaan Sunan Bonang yang gemar menggunakan alat musik Bonang sebagai media dakwah Islam kala itu.

Sunan Bonang bagian Wali Songo

Sunan Bonang adalah gelar yang disematkan pada Sayyid Makhdum Ibrahim, seorang ulama besar, sosok seorang sufi dan ahli tarekat sekaligus budayawan yang lahir tahun 1465 M dari ayah bernama Sunan Ampel yakni Syaikh Sayyid Ali Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim Samarkand bin Syaikh Sayyid Jumadil Kubro dan dari ibu bernama Nyai Ageng Manila binti Arya Teja, Adipati Tuban Kerajaan Majapahit dan Arya Teja cicit dari Ronggolawe, Ksatria Majapahit yang legendaris.

Dalam Babad ing Gresik dicatat bahwa putera puteri Sunan Ampel dari istrinya asli Tuban adalah Nyai Ageng Manyuran, Nyai Gedeng Maloka, Nyai Ageng Wilis, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Syaikh Amat, Nyai Ageng Medarum dan Nyai Ageng Supiyah.

Dari garis ibu, Sunan Bonang adalah berdarah Majapahit dan Singosari karena Nyai Ageng Manila puteri dari Adipati Tuban Arya Teja, sedangkan dari garis ayahnya Sunan Bonang adalah keturunan Rosulullah S.a.w, karena Sayyid Ali Rahmatullah putera dari Sayyid Ibrahim Samarkand, dan Sayyid Ibrahim Samarkand putera dari Sayyid Jumadil Kubro yang tersambung pada Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Rosulullah Muhammad S.a.w.

Kalimat Akhir

Bahwa penyebaran Islam di Jawa lebih dominan dengan pendekatan budaya, karena fakta-fakta sejarah menguatkan itu, tidak ada unsur paksaan dari tiap yang didakwahkan oleh para Wali tersebut.

Manuskrip kuno yang ditemukan pada 1595 itu menguatkan bahwa madzhab yang dianut oleh para Wali penyebar Islam tersebut adalah madzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah, bukan Syi'ah bukan pula Muktazilah.

Dalam fiqih, para Wali Songo mengikuti madzhab Syafi'i sesuai bukti catatan tangan Sunan Bonang dalam daun lontar dengan bahasa Jawa era Majapahit yang terkumpul pada dokumen Het Boek Van Bonang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X