Naskah Carita Lasem mencatat bahwa pada 1480 M, Sunan Bonang sempat tinggal di dalem Kadipaten Lasem bersama kakak perempuannya yaitu Nyai Gede Maloka, janda dari Pangeran Wiranegara.
Adapun tempat tinggal Sunan Bonang di Lasem tersebut adalah di bukit Watu Layar yang masuk desa Bonang, karena Sunan Bonang sempat mendirikan zawiyah untuk kepentingan khalwat dalam riyadloh tarekat.
Beda halnya menurut Raden Poejosoebroto dalam bukunya Wayang Lambang Ajaran Islam ( 1978 ), bahwa kata Bonang yang disematkan kepada Sayid Makhdum Ibrahim bin Sayid Ali Rahmatullah itu adalah kebiasaan Sunan Bonang yang gemar menggunakan alat musik Bonang sebagai media dakwah Islam kala itu.
Sunan Bonang bagian Wali Songo
Sunan Bonang adalah gelar yang disematkan pada Sayyid Makhdum Ibrahim, seorang ulama besar, sosok seorang sufi dan ahli tarekat sekaligus budayawan yang lahir tahun 1465 M dari ayah bernama Sunan Ampel yakni Syaikh Sayyid Ali Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim Samarkand bin Syaikh Sayyid Jumadil Kubro dan dari ibu bernama Nyai Ageng Manila binti Arya Teja, Adipati Tuban Kerajaan Majapahit dan Arya Teja cicit dari Ronggolawe, Ksatria Majapahit yang legendaris.
Dalam Babad ing Gresik dicatat bahwa putera puteri Sunan Ampel dari istrinya asli Tuban adalah Nyai Ageng Manyuran, Nyai Gedeng Maloka, Nyai Ageng Wilis, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Syaikh Amat, Nyai Ageng Medarum dan Nyai Ageng Supiyah.
Dari garis ibu, Sunan Bonang adalah berdarah Majapahit dan Singosari karena Nyai Ageng Manila puteri dari Adipati Tuban Arya Teja, sedangkan dari garis ayahnya Sunan Bonang adalah keturunan Rosulullah S.a.w, karena Sayyid Ali Rahmatullah putera dari Sayyid Ibrahim Samarkand, dan Sayyid Ibrahim Samarkand putera dari Sayyid Jumadil Kubro yang tersambung pada Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti Rosulullah Muhammad S.a.w.
Kalimat Akhir
Bahwa penyebaran Islam di Jawa lebih dominan dengan pendekatan budaya, karena fakta-fakta sejarah menguatkan itu, tidak ada unsur paksaan dari tiap yang didakwahkan oleh para Wali tersebut.
Manuskrip kuno yang ditemukan pada 1595 itu menguatkan bahwa madzhab yang dianut oleh para Wali penyebar Islam tersebut adalah madzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah, bukan Syi'ah bukan pula Muktazilah.
Dalam fiqih, para Wali Songo mengikuti madzhab Syafi'i sesuai bukti catatan tangan Sunan Bonang dalam daun lontar dengan bahasa Jawa era Majapahit yang terkumpul pada dokumen Het Boek Van Bonang.
Artikel Terkait
Demi Menghentikan Perpecahan dan Ingin Berkontribusi, NasDem Siap Gabung Koalisi Bantu Pemerintahan Prabowo
Karena Belum Laku, Kejari Jaksel Bakal Lelang Ulang Jeep Rubicon Mario Milik Dandy di Bawah Rp 800 Juta
Diduga Pendukung 01 Serang Gibran Hingga Tarik Leher, Pelaku Sering Demo di MK
Tak Sabaran, Oknum POLISI Tabrak Avanza dan Pamer Senjata, Warganet: Halah Kacung !
Hak Prerogatif Presiden Terpilih Prabowo Subianto Terpimpin Jangan Pilih Menteri Lobi Lobi Rekomendasi
Sambangi Kendari, AHY Bagikan Sertifikat Tanah Wakaf dan Rumah Ibadah
Orang Bogor Berani "Lawan" Ibu Peminta yang Suka Maksa, Alhasil Kabur Terbirit-birit
Rasain...Doyan Selingkuh, Seorang Pria Berkeluarga Digerebek Teman-temannya Hingga Viral !
31 Pemuda Dilantik Jadi Pengurus Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Bandung Periode 2024-2026
Pelecehan Seksual Lagi, Pelaku 2 Pria Injak Alat Vital Korban Kemudian Diunggah di Medsos