Melalui tema Keketuaan ASEAN yaitu: “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth", Indonesia bertekad untuk terus menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat dari pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Sejarah ASEAN selalu terkait dengan ekonomi. Bahkan di tengah ancaman resesi, ekonomi Asia Tenggara diperkirakan masih lebih baik dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia,” ucap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, di sebuah kesempatan.
Baca Juga: Merintis Kebaya Jadi Milik Dunia
Berkaitan pertumbuhan ekonomi ASEAN, Bank Pembangunan Asia (ADB) pernah memberikan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan ini.
Menurut lembaga itu, ASEAN akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,75 persen pada 2023. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dari angka rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia oleh International Monetary Fund (IMF), yakni sebesar 2,7 persen.
Tantangan Keketuaan
Selama masa Keketuaan Indonesia pada 2023, diperkirakan lebih dari 300 pertemuan akan terselenggara di Indonesia, baik dari pilar politik dan keamanan, pilar ekonomi, maupun pilar sosial budaya.
Pada isu politik dan keamanan, kawasan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh isu-isu penting yang ada saat ini.
Hal itu di antaranya, (i) perkembangan rivalitas politik antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT); (ii) pembentukan kerja sama keamanan QUAD (The Quadrilateral Security Dialogue) antara AS, Australia, India, dan Jepang; (iii) pembentukan pakta pertahanan AUKUS antara AS, Australia, dan Inggris; (iv) ketegangan di Laut Natuna Utara; (v) situasi krisis pascapengambilalihan kekuasaan oleh militer di Myanmar pada 2021; serta (vi) dampak perang Rusia-Ukraina di 2022.
Situasi-situasi tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan tantangan besar bagi ASEAN. Hanya saja, tetap perlu dilihat sebagai kesempatan untuk menjalin kerja sama dengan semua pihak mengingat posisi ASEAN yang relatif netral dan tidak berafiliasi pada satu kekuatan blok tertentu.
Keketuaan Indonesia diharapkan juga mampu meminimalisir berbagai dampak dari disrupsi tersebut di atas, sekaligus mampu membawa ASEAN menjadi organisasi yang lebih efektif dan memiliki peran yang lebih besar sebagai lokomotif stabilitas dan kesejahteraan di kawasan.
Baca Juga: Bunaken, Surga Bawah Laut Indonesia di Sulawesi Utara
Indonesia perlu menciptakan fondasi kerja sama yang kuat sebagai suatu bentuk legacy agar ASEAN dapat menghadapi segala bentuk tantangan secara agile sebagai satu kawasan.
Pada isu ekonomi, prospek pasar tenaga kerja di kawasan mulai menunjukkan tren pemulihan pada 2022 dan diperkirakan akan berlanjut pada 2023. Berdasarkan laporan ASEAN BioDiaspora Virtual Center (ABVC) per 1 Maret 2022, sekitar 72 persen penduduk ASEAN telah menerima vaksinasi Covid-19 penuh dan telah memenuhi target yang dicanangkan WHO pada angka 70 persen.
Pada isu sosial budaya, pelonggaran restriksi dan pembukaan perbatasan antarnegara dapat meningkatkan mobilitas masyarakat sehingga berbagai program people-to-people di ASEAN dapat bergulir kembali.