"Itu menandakan tidak berpengaruh pada elektabilitas. Kalaupun ada pengaruh, itu sangat sedikit. Jadi mereka (elit politik) menerima dengan lapang dada kader yang pernah bermasalah ini selama masih memiliki uang dan jaringan kuat," katanya.
Sifat masyarakat yang permisif juga ikut memberi andil bagi para mantan koruptor kembali berkiprah sebagai legislatif. Korupsi dianggap sebagai suatu hal biasa dan ada dimana-mana.
"Memang aneh di kita ini. Jadi partai pun sudah paham permisifnya masyarakat terhadap korupsi, dan dengan banyaknya korupsi dimana mana ada korupsi, termasuk kata Mahfud MD kita nengok kemanapun ada korupsi gitu, maka seolah-olah korupsi itu sudah biasa," ujar Ujang.
"Ini seperti lingkaran setan yang tidak pernah putus. Konstruksi politik yang tidak sehat yang harus diperbaiki sebenarnya, tapi mungkin perlu waktu," tambahnya.***
Sumber: ayobandung.com