JournalNusantara.com - Profesor Deden Lesmana bersama Dr. H. Rohmanur Aziz, S.Sos.I., M.Ag., (Ronaz) selaku Dosen Pembimbing Lapangan sekaligus Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melaksanakan kegiatan monitoring dan pembekalan kepada masyarakat Desa Sagarahiang, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan pada Rabu (12/08).
Kegiatan ini berfokus pada edukasi dan praktik pemanfaatan potensi lokal sebagai media tanam dan pupuk organik, khususnya melalui pengolahan eceng gondok, kotoran ternak sapi, serta campuran MOL (Mikroorganisme Lokal).
Pemanfaatan eceng gondok yang dipadukan dengan kotoran sapi dan MOL menjadi salah satu inovasi sederhana yang dapat dikembangkan masyarakat untuk menghasilkan media tanam organik yang ramah lingkungan dan bernilai guna. MOL membantu proses penguraian bahan organik sehingga dapat mendukung proses fermentasi dan pengomposan secara alami.
Media tanam tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, terong, sawi, kangkung, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Khusus dalam budidaya cabai, pemanfaatan bahan organik diharapkan dapat membantu menyediakan kondisi media tanam yang baik bagi pertumbuhan tanaman sekaligus menjadi alternatif dalam mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian berbahan kimia.
Baca Juga: Innalillahi, Hj Enung Solihah Sesepuh Ponpes Al Musri Cianjur Wafat
Kegiatan ini bukan sekadar edukasi pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari proses pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Masyarakat diajak untuk melihat bahwa bahan-bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah, seperti eceng gondok dan kotoran ternak, dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bahkan memiliki nilai ekonomi.
Melalui pendampingan Dr. Ronaz menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta produktivitas pertanian bagi masyarakat Desa Sagarahiang dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.
Acara tersebut juga dihadiri oleh kepala desa, camat Darma dan para penyuluh pertanian. Prof. Deden menyampaikan bahea "Dari limbah menjadi manfaat, dari potensi lokal menjadi produktivitas, dan dari pemberdayaan menuju kemandirian masyarakat". ***