nasional

BEM PTNU Soroti Ketahanan Pangan, Mahasiswa Didorong Jadi Aktor Strategis Bangsa

Kamis, 17 Juli 2025 | 08:39 WIB

Journalnusantara.com, Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah isu politik utama dan fondasi kedaulatan bangsa.

Mahasiswa didorong untuk menjadi aktor strategis dalam mewujudkan sistem pangan yang adil dan berdaulat.

M Nadhim Ardiansyah, Direktur Pertanian dan Energi BEM PTNU, dalam keterangannya menyatakan bahwa negara yang abai terhadap pengelolaan pangan akan rentan terhadap ketergantungan dan gejolak sosial. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pelibatan aktif seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa.

"Ketahanan pangan bukan sekadar agenda ekonomi atau jargon teknokratis. Ia adalah alat kedaulatan, kekuatan nasional, dan sumber legitimasi kekuasaan. Mahasiswa wajib terlibat aktif dalam isu ini," tegas Nadhim Ardiansyah, Kamis (17/7/2025).

BEM PTNU sendiri telah menunjukkan langkah konkret melalui pendampingan petani dari hulu ke hilir, mulai dari pemilihan benih hingga distribusi pasca panen. Menurut Nadhim, ini adalah bentuk transformasi sosial yang menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pemrotes, tetapi juga pelaku nyata di lapangan.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pada tahun 2025 tercatat menyumbang Rp224 triliun pada APBN, melampaui sektor migas, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 10,45%.

Meskipun menunjukkan potensi strategis, sektor ini masih menghadapi persoalan struktural seperti ketimpangan akses, dominasi tengkulak, distribusi yang timpang, dan potensi mafia pangan.

"Apakah kita akan menyerahkan semua ini kepada pendekatan birokratis semata? Atau Satgas Pangan yang top-down? Tidak," kata Nadhim.

"Dalam sistem politik yang sehat, pengawasan dan keterlibatan masyarakat sipil adalah keniscayaan. Di sinilah mahasiswa harus berdiri: sebagai aktor politik, penjaga akuntabilitas negara, dan jembatan antara rakyat dan penguasa."

Ia menambahkan bahwa upaya pemerintah seperti sistem distribusi berbasis koperasi, misalnya Koperasi Merah Putih, perlu didampingi dengan edukasi dan kontrol sosial yang kuat dari mahasiswa.

Selain itu, mahasiswa juga dinilai memiliki peran vital dalam menangkal infiltrasi kepentingan jangka pendek serta praktik korupsi dan manipulasi di sektor pangan.

Nadhim Ardiansyah melihat ini sebagai bentuk baru dari gerakan mahasiswa. "Bukan sekadar penekan dari luar sistem, tetapi juga mitra kritis yang bekerja di dalam realitas sosial-politik. Ini adalah wajah politik transformatif yang lebih matang politik yang tidak hanya berbicara, tetapi bertindak," pungkasnya.

BEM PTNU berharap langkah mereka dapat menjadi inspirasi bagi organisasi mahasiswa lainnya di seluruh Indonesia untuk terlibat aktif dalam isu ketahanan pangan, demi terwujudnya sistem pangan yang adil, mandiri, dan berdaulat.

Tags

Terkini