JournalNusantara.com - Menjadi seorang aparat penegak hukum adalah amanah yang cukup berat, karena disinilah dipertaruhkan antara integritas, profeseionaltas dan kepentingan-kepentingan pribadi yang sesat dan sesaat saja. Semuanya berawal dari pikiran lantas menjadi ucapan dan kemudian mewujud dalam tindakan, karenanya berhati-hatiah dengan pikiran.
Sebagaimana dikemukakan dalam salah satu akun di linimasa Twitter, @gayung_aer, ia menuliskan tentang "The Cannibal Cop" : Polisi New York yang Menyimpan Fantasi Mengerikan Di siang hari, dia adalah petugas NYPD (New York Police Department) melayani, melindungi, dan membawa lencana kebanggaan. Tapi di balik layar komputernya, dia punya kehidupan gelap yang tak pernah dibayangkan siapa pun.
Gilberto Valle bukan cuma menyimpan fantasi aneh, ia merencanakan penculikan, memasak, dan memakan wanita-wanita yang ia kenal termasuk istrinya sendiri. Kasus ini mengguncang publik. Bagaimana bisa seorang penegak hukum justru punya pikiran sekeji itu? Apakah ini hanya khayalan, atau benar-benar rencana pemb*n*han kanibalisme yang nyaris terjadi?.
Baca Juga: Pasca 72 Siswa MAN 1 Cianjur Keracunan, Program MBG jadi Sorotan
Ya, dialah Gilberto Valle, seorang polisi New York City yang tampak seperti keluarga bahagia pada umumnya: punya istri cantik, anak kecil yang lucu, dan pekerjaan bergengsi sebagai aparat penegak hukum. Tapi diam-diam, di balik seragam biru dan senyumnya yang kalem, ada sisi gelap yang bahkan terasa terlalu mengerikan untuk dipercaya sisi yang membuatnya dikenal dunia dengan julukan “The Cannibal Cop.”
Cerita ini mulai terkuak ketika sang istri, Kathleen Cooke, merasa ada sesuatu yang janggal dalam keseharian Gilberto. Suaminya jadi sering menghabiskan waktu di depan laptop, menyembunyikan layar saat dia lewat, dan mulai bersikap… aneh. Kecurigaan itu berubah jadi mimpi buruk saat ia berhasil mengakses laptop Gilberto. Yang dia temukan bukan sekadar percakapan aneh tapi rencana mengerikan tentang menculik, meny1ksa, memb^n^h, lalu memakan wanita-wanita yang bahkan beberapa di antaranya adalah teman dekat sang istri sendiri.
Gilberto ternyata aktif di forum-forum gelap di internet. Di sana, dia berdiskusi dengan orang-orang yang punya fetish serupa tentang bagaimana rasa daging manusia, bagaimana cara terbaik untuk memasak seorang wanita hidup-hidup, dan metode “teraman” untuk menculik tanpa jejak.
Baca Juga: Jokowi Tempuh Jalur Hukum atas Tudingan Ijazah Palsu, 4 Orang akan Dilaporkan
Ia bahkan menyusun daftar target: nama-nama perempuan yang ia kenal secara pribadi, lengkap dengan jadwal harian, alamat rumah, hingga kebiasaan mereka. Salah satu pesan paling menyeramkan yang ditemukan: “Aku ingin mengikat tubuhnya dan memasaknya pelan-pelan. Aku ingin melihat matanya terbuka saat aku mulai mem0t*ngnya.”
Ketika FBI turun tangan, mereka menemukan ratusan bukti digital chat, foto-foto para target, catatan detail penculikan, hingga skema “dapur penyiksaan”. Tapi masalahnya adalah: tidak ada satu pun korban nyata. Tidak ada perempuan yang benar-benar disakiti. Semuanya masih dalam tahap rencana, meskipun rencana itu sangat spesifik dan menyeramkan.
Valle akhirnya ditangkap dan diadili. Tuduhannya berat: konspirasi penculikan dan pelanggaran penggunaan sistem kepolisian untuk menguntit. Di pengadilan, para juri harus menghadapi dilema besar: Apakah seseorang yang “hanya berfantasi” bisa dipenjara jika fantasinya begitu ekstrem dan terdokumentasi dengan sangat nyata?.
Proses persidangan penuh drama. Pihak jaksa memaparkan Valle sebagai monster terpendam—seorang polisi yang menyalahgunakan kekuasaan, mencari informasi pribadi wanita dari database kepolisian, lalu menggunakannya untuk merancang skenario pembantaian kanibal. Sedangkan tim pembela bersikeras bahwa semua itu hanya fantasi gelap, sama seperti orang yang menonton film horor atau menulis novel sadis.
Bahwa tidak ada bukti nyata ia benar-benar akan melakukannya. Valle akhirnya divonis bersalah pada awalnya dan dipenjara. Tapi kemudian, pada 2014, hakim membatalkan hukuman itu. Alasannya? Tidak cukup bukti bahwa Gilberto benar-benar berniat menindaklanjuti rencananya. Meski menjijikkan dan mengganggu secara moral, tidak ada tindakan kriminal konkret yang bisa dibuktikan.
Gilberto keluar dari penjara dan kembali ke masyarakat. Ia sempat muncul di beberapa wawancara, mengatakan bahwa semua itu hanyalah “fantasi pribadi” yang tidak akan pernah ia realisasikan. Namun, publik tak mudah percaya.