nasional

Hari Kartini, Menjadi Perempuan Hebat Tanpa Kehilangan Akhlak

Rabu, 23 April 2025 | 14:00 WIB
Kisah RA Kartini yang menentang Poligami (Instagram rakartini1879)

Lihatlah sejarah: Asma’ binti Abu Bakar yang berani, Aisyah yang cerdas, Khadijah yang dermawan, dan Fatimah yang lembut namun tegas. Mereka adalah simbol kehebatan perempuan yang tidak pernah kehilangan akhlak.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Maka siapa yang melebihi engkau dalam akhlak, berarti ia lebih tinggi darimu dalam agama.” (Madarij as-Salikin)

Maka inilah tantangan para perempuan hari ini: bagaimana menjadi hebat tanpa kehilangan adab, berpendidikan tinggi namun tetap menjunjung kesopanan, tampil percaya diri namun tetap dalam bingkai malu yang terpuji.

2. Antara Kebebasan dan Batasan: Di Mana Akhlak Ditempatkan?

Di zaman ketika kata kebebasan dielu-elukan bak mantra penyelamat, tak sedikit perempuan yang terjebak dalam ilusi bahwa menjadi bebas berarti lepas dari batas.

Padahal...
Kebebasan sejati bukanlah berjalan tanpa arah, tetapi menapaki jalan dengan cahaya petunjuk.
Bukan berkata sesuka hati, tetapi menyusun kata dengan tanggung jawab ilahi.

Bukan membuka apa saja, tetapi memilih apa yang patut dibuka dan apa yang harus dijaga.

Akhlak bukan penghalang kemajuan, justru ia adalah pagar keagungan.

Allah Ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Ayat ini bukan larangan untuk tampil menawan, tetapi peringatan agar jangan tergelincir dalam pamer dan penampilan yang melunturkan marwah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Perempuan hebat tidak harus teriak untuk didengar, tidak perlu telanjang untuk dilihat.

Saidatina Aisyah RA wanita paling berilmu di zamannya berani menyampaikan ilmu di depan para sahabat laki-laki, namun tetap menjaga kesopanan dan kehormatannya.

Ibnu Mas’ud RA berkata: “Akal itu di hati, rasa malu itu di wajah, dan lisan adalah penerjemah keduanya.”

Di tengah derasnya arus media sosial, ketika perempuan mudah viral karena keberanian membuka aib atau tubuh, kita bertanya: Masih adakah ruang untuk malu yang bermartabat?
Masihkah tersisa perempuan yang ketika bicara menggugah hati, bukan hanya menggoda pandangan?

Halaman:

Tags

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB