OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
Presiden Prabowo meminta kepada para pembantunya yang tergabung dalam Kabinet Merah Putih untuk "jangan cengeng, jangan minderan, jangan pesimis. Yang penting semangat dulu, usaha kerja keras dahulu. Baru kalau tidak bisa, kita evaluasi". Penegasan Presiden diatas, sungguh sangat menarik. Presiden ingin agar Menteri-Menterinya kerja keras dan kerja cerdas.
Sikap optimis betul-betul dibutuhkan ketika bangsa ini banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Ini penting, mengingat sikap optimis adalah sikap yang selalu memandang segala hal dari sisi positif dan memiliki keyakinan bahwa segala masalah dapat diatasi. Orang yang optimis percaya bahwa ada potensi kebaikan dan kemungkinan sukses dalam setiap situasi.
Beberapa ciri orang yang optimis antara lain tidak kaget menghadapi kesulitan; berusaha mencari penyelesaian atas kesulitan yang dihadapi; yakin bahwa masa depan ada dalam kendalinya; meningkatkan apresiasi terhadap kemampuan diri;
selalu bergembira, bahkan saat menghadapi kesulitan dan menerima apa yang tidak bisa diubah
Sikap optimis dapat membantu meningkatkan semangat dan motivasi seseorang untuk mencapai tujuan dan meraih kesuksesan. Lawan kata dari optimis adalah pesimis, yaitu sikap saat seseorang selalu memiliki pandangan negatif ketika menghadapi situasi tertentu. Kita percaya, Kabinet Merah Putih bentukan Presiden Prabowo merupakan kumpulan anak bangsa yang optimis.
Lalu apa yang dimaksud dengan cengeng ? Dari berbagai literatur cengeng adalah istilah untuk menggambarkan kebiasaan atau sikap seseorang yang mudah menangis atau tersinggung. Sebagai gambaran beberapa arti kata cengeng dianraranya
mudah menangis atau suka menangis;
mudah tersinggung; lemah semangat atau tidak dapat mandiri; mengeluh; gelisah dan pemarah.
Anak yang cengeng biasanya memiliki perasaan yang sensitif. Mereka menjadikan menangis sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan perasaannya. Penyebab anak cengeng bisa beragam. Banyak faktor yang jadi pentebabnya, dan tidak selalu berkaitan dengan pola asuh orangtua. Dengan tekad kuat, sikap cengeng bisa dirubah menjadi tegar.
Begitu pun dengan semangat Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada pangan. Dengan kekayaan sumber daya pertanian yang dimiliki, baik alam raya maupun manusianya, tidak seharusnya kita merasa ragu untuk meraihnya. Swasembada pangan bukan hal mustahil untuk diraih. Lewat perjuangan, bangsa ini memiliki kemampuan untuk menggapainya.
Sekitar 40 tahun lalu, tepatnya tahun 1984, bangsa kita telah mampu meraih swasembada beras. Bangsa-bangsa lain, banyak yang tak percaya atas raihan yang kita capai. Mereka tahunya, Indonesia adalah salah satu importir beras yang cukup besar di dunia. Mereka heran, kok bisa dari importir beras, tiba-tiba menjadi bangsa yang berswasembada beras.
Hal yang sama, pengalaman pencapaian swasembada beras ini mestinya mampu menjadi daya dorong untuk mencapai swasembada pangan. Itu sebabnya, menjadi sangat relevan, bila Presiden Prabowo menuntut para pembantunya untuk terus bergerak dan tidak pernah merasa lelah dalam melakukan percepatan pencapaian swasembada pangan.
Tekad Pemerintah untuk menyetop impor beras dan gula konsumsi tahun 2025 ini, sebetulnya merupakan langkah awal menuju swasembada pangan. Begitu pun dengan menghentikan impor jagung untuk pakan ternak dan garam. Pemerintah optimis, keempat komoditas pangan diatas dapat diproduksi di dalam negeri, selama kita yakin meraihnya.
Yang jadi "pe-er" berat Pemerintah adalah bagaimana dengan pencapaian swasembada daging sapi dan swasembada kedelai atau swasembada bawang putih ? Kemauan politik untuk mewujudkan swasembada daging sapi sendiri, telah dikumandangkan sejak lama. Begitu pula dengan swasembada kedelai. Setiap Pemerintahan yang manggung selalu menhadikannya tujuan yang harus dicapainya.
Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, kemauan politik ini, belum dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata di lapangan. Swasembada jagung, swasembada kedelai dan swasembada bawang putih, masih mengemuka sebagai cita-cita atau sekedar keinginan untuk mengecat langit. Memang tampak, namun tidak bisa untuk dijangkau.
Lebih rumit lagi, pencapaian swasembada kedelai. Sekali pun Pemerintah telah berjuang keras, namun hingga sekarang pun swasembada kedelai masih belum terwujud. Pertanyaannya adalah apakah Kabinet Merah Putih akan mengikuti Kabinet-Kabinet sebelumnya, yang lebih mengedepan omon-omonnya ketimbang pembuktian di lapangan ?