JournalNusantara.com - Adanya Indikasi kecurangan Pemilu 2024 mengakibatkan banyaknya elemen masyarakat dari mulai masyarakat sipil hingga mahasiswa yang protes hingga turun aksi di wilayahnya masing - masing, tanpa terkecuali di Cianjur pun sejumlah Relawan Ganjar menolak Pemilu Curang 2024.
Noviana Kurniati yang dikenal dengan sebutan Novie Bule yg sempat viral kasus melabrak Rocky Gerung pun ikut hadir dalam pertemuan Kopi Darat (Kopdar) yang dilakukan oleh sejumlah relawan Ganjar Mahfud pada Selasa Malam (27/2/2024) di sebuah kafe bilangan Cianjur.
Baca Juga: Nodai Demokrasi, AMPUH Desak Gakkumdu Segera selesaikan Kasus OTT Oknum ASN
Dalam Pertemuan itu Novie mewakili teman-teman Relawan Ganjar Mahfud mengatakan bahwa Indikasi kecurangan Pemilu 2024 sudah terlihat jelas dari awal sebelum masa Kampanye seperti contohnya Makamah Konstitusi yang meloloskan Gibran menjadi Cawapres, KPU yang menerima pendaftaran Paslon 02 Prabowo - Gibran, hingga hasil suara yang diduga dimainkan.
"Saya sebagai anak bangsa merasa miris ketika Pemilu 2024 berjalan tidak baik-baik saja, apalagi dalam Pemilu 2024 ini saya melihat ada peran serta Pak Jokowi sebagai Kepala Negara yang ikut "bermain atau cawe - cawe", jika tidak pertanyaan saya kenapa Jokowi membiarkan semua ini terjadi..??? Jokowi seolah - olah "Buta Tuli" dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini." Ujar Novie Bule kepada JournalNusantara.com, Rabu (28/2/2024).
Baca Juga: Apakah Telah Hilang Nilai Pancasila Dalam Hembusan Nafas Bangsa
"Kecurangan Pemilu 2024 di Cianjur pun diduga ada peran serta Bupati Herman Suherman. Mungkinkah Politik Dinasti Jokowi melahirkan Politik Dinasti Bupati di Cianjur, terlihat jelas Menantu Bupati yaitu Abdul Aziz ikut dalam konstelasi politik dengan menjadi Calon Legislatif DPR RI Jabar 3, dan hasil suara hingga pantauan terakhir saya meraih suara yang sangat fantastis sementara suara Ganjar Mahfud bisa dikatakan di Cianjur sangat rendah jauh dari ekspektasi saya." Tambahnya.
"Abdul Aziz yang notabene nya kader dari PDI Perjuangan, Saya melihat suara Abdul Aziz justru linear dengan Paslon lain, sehingga saya menduga Bupati terlibat dalam mengintervensi Kepada Desa, ASN untuk memenangkan salah satu paslon lain, tetapi bukan Paslon 03. Selain itu calon - calon Legislatif yang diduga akan lolos ke Legislatif pun hampir 90% orang - orang terdekat Bupati yang dikenal dengan sebutan "Banteng Pendopo" artinya ada dugaan Bupati melakukan cawe - cawe dengan memanfaatkan jabatan dan kekuasaannya." Tegas Novie.
Baca Juga: Media Massa Mainstream dengan Berita Hoax?
"Sementara dalam setiap rapat Konsolidasi Partai Bupati kerap kali mengatakan bahwa untuk PDI Perjuangan akan mendapatkan 20 kursi, dan kenyataannya saat ini hanya 6 kursi yang artinya Bupati yang notabenenya selain sebagai Dewan Pertimbangan DPC PDI Perjuangan Cianjur, juga sebagai Ketua Tim Pemenangan Cabang Cianjur (TPC) tidak mampu menjalani tugas sebagaimana mestinya atau dikatakan Bupati sudah Gagal memenangkan suara Ganjar Mahfud di Cianjur." Imbuhnya.
"Sesuai surat Instruksi DPP PDI Perjuangan pada tanggal 16 Desember 2023 dengan Nomor surat : 5775/IN/DPP/XII/2023 yang isinya mengintruksikan jika Caleg yang perolehan suaranya tidak linear dengan perolehan suara Capres Cawapres no urut 3, maka DPP Partai akan mempertimbangkan Caleg tersebut tidak akan dilantik sebagai anggota dewan terpilih Pemilu 2024. Maka berdasarkan surat instruksi tersebut saya berharap DPP PDI Perjuangan dapat menyikapinya dan saya pun akan memberikan surat kepada DPP Partai PDI Perjuangan atas apa yang terjadi di Cianjur." Pungkas Novie Bule.***