Lebih dari itu, puisi juga mengajarkan kita cara merayakan Indonesia. Bukan dengan euforia yang dangkal, tetapi dengan kesadaran yang mendalam akan arti kebersamaan. Senyum yang muncul dalam puisi tentang Pattimura bukanlah senyum kemenangan atas pihak lain, melainkan senyum yang lahir dari penerimaan dan persaudaraan.
Keindonesiaan sebagai rumah bersama bukanlah sesuatu yang otomatis terwujud; ia harus terus-menerus dirawat. Puisi, dalam hal ini, adalah salah satu cara merawatnya. Ia mengingatkan kita bahwa di balik perbedaan, ada rasa yang sama: rasa ingin dihargai, dipahami, dan dicintai sebagai bagian dari bangsa ini.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang “apa guna puisi” mungkin tidak perlu dijawab dengan argumen panjang. Cukuplah melihat bagaimana puisi mampu mengubah suasana tegang menjadi ruang kebersamaan, bagaimana ia mampu membuat orang-orang yang sebelumnya berjarak menjadi duduk bersama, bahkan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih damai.
Puisi adalah ruang perjumpaan batin. Dan dalam perjumpaan itu, kita menemukan kembali Indonesia—bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai rumah bersama yang layak dirayakan dengan senyum.
Malang, 24 Maret 2026
Artikel Terkait
Wajah Cantik dan Senyum Tulus Pramugari di Balik Kesibukan Mudik Lebaran
Cantiknya Pol! Rahasia Tubuh Bugar dan Wajah Segar dengan Olahraga Pagi yang Seimbang
Mutiara Pagi: Syawal Cermin Ramadan (Bagian 2156)
Mutiara Pagi: Harapan yang Tersisa (Bagian 2157)
Wisata Pasca Lebaran, Momen Hangat Mempererat Silaturahmi
Persiapan Matang Liburan Pasca Lebaran
Menjaga Kesehatan Tubuh Pasca Perayaan Lebaran
Tips Pola Makan Sehat Pasca Lebaran
Kisah Inspiratif Ai Susanti, Duta Pariwisata Jabar yang Menjemput Panggilan Baitullah di Usia Muda
Mutiara Pagi: Kebenaran (Bagian 2158)