Oleh Mohamad Sinal
Di tengah dunia yang kian bising oleh perdebatan, perpecahan, dan identitas yang saling dipertentangkan, puisi kerap dipandang sebagai sesuatu yang sunyi, bahkan dianggap tidak lagi relevan. Ia hadir tanpa teriakan, tanpa ambisi untuk menguasai ruang publik, dan sering kali tanpa kepastian akan “manfaat” yang kasatmata. Namun justru dalam kesunyiannya itu, puisi menyimpan daya yang tak mudah diukur: kemampuan mempertemukan batin manusia pada titik terdalamnya. Di sanalah puisi menemukan makna sejatinya—bukan sekadar sebagai karya seni, melainkan sebagai ruang perjumpaan batin yang dapat meneguhkan keindonesiaan sebagai rumah bersama.
Keraguan terhadap kegunaan puisi adalah sesuatu yang wajar, bahkan dialami oleh banyak penyair, termasuk D. Zawawi Imron. Seorang penyair yang telah melanglang buana hingga ke Eropa untuk membacakan puisinya pun masih bertanya: apakah puisi yang ia bacakan benar-benar berguna? Pertanyaan ini penting, karena menunjukkan bahwa puisi tidak pernah lahir dari kesombongan, melainkan dari kegelisahan dan kejujuran. Namun justru dari kegelisahan itulah, pengalaman-pengalaman yang membuktikan daya hidup puisi kerap muncul secara tak terduga.
Salah satu pengalaman yang menggugah terjadi sekitar tahun 2010, ketika ia diundang oleh Budhy Munawar Rachman dari Yayasan Paramadina untuk membacakan puisi di halaman Gereja Maranatha di Waisisil, Pulau Saparua. Tempat itu bukan sekadar lokasi biasa; ia adalah tanah kelahiran Thomas Matulessy, pahlawan yang dikenang karena keberaniannya melawan penjajahan dan keteguhannya menghadapi kematian dengan senyum.
Situasi saat itu tidaklah sederhana. Dua kelompok suku baru saja mengalami pertikaian. Ketegangan masih terasa, dan suasana batin masyarakat belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi seperti itu, puisi mungkin tampak sebagai sesuatu yang rapuh—tidak cukup kuat untuk meredakan konflik, apalagi menyatukan pihak-pihak yang bertikai. Namun justru di situlah letak misteri puisi: ia bekerja bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan resonansi batin.
Tanpa sempat memikirkan apakah hadirin menyukai puisi atau tidak, sang "Celurit Emas" memilih untuk berkisah tentang Pattimura. Ia mengangkat sosok yang melampaui sekat-sekat etnis dan agama, sosok yang berdiri sebagai simbol keberanian dan pengorbanan demi kemerdekaan. Dalam puisinya, Pattimura dipuji bukan karena romantisme sejarah semata, tetapi karena keteladanannya yang “pantas dipuji”—keteguhan hati yang tidak goyah bahkan di hadapan tiang gantungan.
Selain itu, sebagai seorang Madura, ia mencoba menjembatani jarak emosional antar etnis. Ia menyampaikan bahwa sakit yang dirasakan orang Saparua adalah juga sakit orang Madura. Ia membayangkan suatu masa ketika anak-anak bangsa di Madura akan memasang foto Pattimura yang tersenyum menghadapi kematian—sebuah simbol bahwa kepahlawanan tidak dimiliki oleh satu daerah saja, melainkan oleh seluruh Indonesia.
Puisi itu ditutup dengan larik yang sederhana namun kuat: bahwa meskipun orang Madura mungkin belum mengenal Pattimura, senyumnya telah bermekaran di bibir mereka—senyuman Tanah Air yang begitu indah. Larik ini bukan sekadar metafora; ia adalah jembatan batin yang menghubungkan pengalaman sejarah dengan perasaan kolektif sebagai bangsa.
Reaksi yang muncul pun di luar dugaan: sorak sorai bergemuruh. Bukan sekadar tepuk tangan untuk sebuah pertunjukan, melainkan luapan emosi yang menandakan adanya perjumpaan batin. Dalam momen itu, puisi tidak hanya menjadi milik penyair, melainkan menjadi milik bersama. Ia menjelma menjadi ruang di mana luka-luka sosial menemukan penawarnya, meski hanya sejenak.
Yang lebih penting lagi adalah apa yang terjadi setelahnya. Keesokan hari, sang penyair bersama dua kepala suku yang sebelumnya bertikai naik kapal menuju Ambon. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan simbol rekonsiliasi. Puisi mungkin tidak menyelesaikan konflik secara struktural, tetapi ia membuka pintu bagi kemungkinan dialog, bagi keinginan untuk kembali saling melihat sebagai sesama manusia.
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa puisi memiliki fungsi yang lebih dalam daripada sekadar hiburan atau ekspresi diri. Ia adalah medium yang mampu menyentuh dimensi spiritual manusia—dimensi yang sering kali terabaikan dalam pendekatan-pendekatan rasional atau politis. Dalam ruang puisi, identitas tidak dihapus, tetapi dipertemukan dalam kesadaran yang lebih luas: kesadaran sebagai bagian dari kemanusiaan dan kebangsaan.
Acara yang diadakan di Hotel Natsepa Ambon oleh Budhy Munawar Rachman, dalam rangka “80 Tahun Zawawi Imron” itu, semakin memperkuat pengalaman tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh Ambon dan suasana kebersamaan yang terbangun menunjukkan bahwa puisi dapat menjadi titik temu lintas latar belakang. Di sana, identitas sebagai “anak ibu” dan “anak Indonesia” menemukan artikulasinya yang utuh—tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan.
Dalam konteks keindonesiaan, pengalaman ini menjadi sangat relevan. Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman—suku, agama, bahasa, dan budaya. Keberagaman ini adalah kekayaan, tetapi juga potensi konflik jika tidak dikelola dengan bijak. Di sinilah puisi dapat memainkan peran penting: sebagai ruang perjumpaan batin yang melampaui sekat-sekat tersebut.
Puisi tidak memaksa orang untuk sepakat, tetapi mengundang mereka untuk merasakan. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi membuka ruang refleksi. Dalam dunia yang cenderung serba cepat dan dangkal, puisi mengajak kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan merasakan kembali kemanusiaan kita.
Artikel Terkait
Wajah Cantik dan Senyum Tulus Pramugari di Balik Kesibukan Mudik Lebaran
Cantiknya Pol! Rahasia Tubuh Bugar dan Wajah Segar dengan Olahraga Pagi yang Seimbang
Mutiara Pagi: Syawal Cermin Ramadan (Bagian 2156)
Mutiara Pagi: Harapan yang Tersisa (Bagian 2157)
Wisata Pasca Lebaran, Momen Hangat Mempererat Silaturahmi
Persiapan Matang Liburan Pasca Lebaran
Menjaga Kesehatan Tubuh Pasca Perayaan Lebaran
Tips Pola Makan Sehat Pasca Lebaran
Kisah Inspiratif Ai Susanti, Duta Pariwisata Jabar yang Menjemput Panggilan Baitullah di Usia Muda
Mutiara Pagi: Kebenaran (Bagian 2158)