Kita hanya singgah sebentar,
di antara detak waktu
Dengan hidup yang terus berputar,
hingga tiba pada pelabuhan yang dituju
Saat langkah semakin renta
Hanya sabar jadi teman setia
Satu demi satu sahabat pergi
meninggalkan dunia fana ini
Hidup hanyalah titipan,
pasti 'kan reda seperti hujan
Tak ada yang abadi,
kecuali amal baik yang dimiliki
Maka genggamlah syukur
Jadikan pelita di dalam dada
Karena hati yang selalu bersyukur
Adalah hati yang merdeka
Apalagi yang dapat dilakukan?
Kecuali menanam cinta
Mengalirkan sejumlah kebaikan
dengan tulus dan penuh makna
Karena akhir perjalanan,
bukan pada dunia
Melainkan pada pelabuhan
di sisi Yang Maha Cinta
Malang, 21 September 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Doa dalam Diam (Bagian 1968)
Peringatan Hari Tanjak Sedunia, PT EMP Gebang Limited Raih Penghargaan
Mukernas PABKI 2025, Perkuat Profesionalisme dan Keilmuan Konselor Islam
Gizi yang Dinanti, Krisis yang Mengintai: Realita Suram Program MBG di Cianjur
Darurat Sampah di Cianjur Selatan: Hak Warga Terabaikan, Bencana Mengintai
Mutiara Pagi: Mau Apa Lagi? (Bagian 1969)
Membawa Jalan Kebaikan, Menjadi Cahaya untuk Sesama
Keluarga Idaman, Sumber Bahagia dan Tempat Kembali
Formasi Ideal dalam Sepak Bola, Kunci Keseimbangan Tim
Meningkatkan Percaya Diri, Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar